Sabtu, 14 Maret 2009

Gensou Suikoden: Heroes Come Back Again vol.1 chap.3

Chapter 3

”Apa yang kau beli Jowy?” Nanami kemudian melihat kantung isi belanjaan Jowy. ”Oh, aku membelikan barang-barang untuk Riou, Tir, Gremio dan untuk kita bertiga,” Jowy membetulkan kantung belanjaannya kembali. ”kau sangat baik sekali! Mereka tidak ikut belanja, tapi kau membelikannya untuk mereka,” Nanami sangat heran dengan Jowy. ”Hei, lihat itu!’ Tunjuk Cleo.

Sesuatu dari kejauhan, perlahan-lahan terdengar derapan kuda yang semakin jelas. Ringkikan kudan diiringi teriakan, seperti teriakan setan. Setelah terlihat agak dekat, mereka sejumlah kuda dengan penunggangnya datang berkelompok, mungkin jumlah mereka kurang lebih 50 orang. Mereka menghampiri ketiganya. Ketiganya menatap waspada. ”Viuu!! Hey lihat! Kita mendapatkan harta karun yang besar!” Pria berambut hitam setengah panjang menggunakan kaus putih tak berlengan menyeringai. ”Apa yang kalian maksud ’harta karun yang besar’?” Tanya Jowy dingin. ”Tolol! Jika kami berkata seperti itu, apa kalian tidak tahu kami adalah...” Seorang wanita berambut emas muncul dari belakang. Nanami terpekik, ”mereka adalah bandit..” bisiknya.

”Hey lihat! Ada wanita-wanita imut!” ”Hati-hati dengan tanganmu, hidung pesek!” Nanami mulai kesal. ”Hey gadis, jangan marah! Kami hanya ingin bersenang-senang denganmu!” Kemudia pria berambut hitam tertawa terbahak-bahak diikuti para bandit yang lain. Mata Jowy memberi isyarat untuk menyiapkan senjata mereka. Tetapi pria berambut hitam melihat gerakan isyarat mereka. ”Ho.. mereka berani sekali! Ressa apa kau siap?” Ia menoleh ke arah wanita berambut emas yang berekspresi ketus. ”Jangan tanyakan aku seperti itu, Tsuyoi! Karena aku selalu siap menghadapi para bayi seperti mereka,” Cara bicaranya begitu merendahkan.

”Terseraha kalian mau berkata apa... terima ini!!!!” Nanami menyerang Tsuyoi. Gerakan Tsuyoi sangat cekatan, ia melompat dari kudanya, tongkat yang ia pegang, ia patahkan menjadi dua sehingga menjadi dua tombak. Dia membalas menyerang Nanami, tetapi meleset. Nanami kembali memukulnya keras-keras. Jowy menyerang Ressa dan Cleo berusaha mengahabisi bandit-bandit yang lain. Sudah setengah jam, tetapi mereka masih bertarung dengan para bandit, anehnya.. jumlah mereka semakin membanyak.

”Hosh.. hosh.. hosh.. hosh.. ini.. tida..k.. baik... aku.. sangat lelah!!” Keringat Nanami bercucuran di wajahnya. ”Apa yang sedang kau pikirkan Jowy?” Cleo menggigit bibir bawahnya. Jowy memejamkan matanya sebentar. ”Aku akan menggunakan Black Sword Rune. Aku akan mencobanya. Masalahnya, aku tidak menggunakan Rune ini selama beberapa tahun,” Jowy melihat tangan kanannya yang ditutupi sarung tangan beludru kuning gading. ”Oh Jowy.. cobalah! Kau pasti bisa! Aku tidak ingin mati di sini hanya karena bandit-bandit brengsek!!’ Nanami mulai kesal.

Jowy berpikir, jika ia berhasil menggunakan Black Swor Rune tanpa hambatan, mereka akan berlari secepat mungkin untuk kembali ke Karaya Village dan meminta tolong. Situasi bertarung tidak memungkinkan, mereka hanya bertiga! Apa yang dapat dilakukuan tiga orang melawan 50 bandit kecuali kabur. Jowy meneguhkan hatinya, ia sangat berharap dengan Black Sword Rune. Perlahan-lahan sinar dari punggung tangan kanannya menyala, segera ia melepaskan sarung tangan kanannya. ”Black Sword Rune!!!!” Kemudian sinar yang besar terpencar menyilaukan, angin-angin berhembus kencang, daun-daun berterbangan. Para bandit menutup matanya karena silau.

”Sekarang... lari!!!!” Teriak Jowy. Mereka lari sangat kencang. Cleo tidak memperhatikan jalan di depannya, ia tersandung batu. Darah segar keluar dari lutut kanannya, ia merasa agak mati rasa. ”Oh sialan!” Cleo melanjutkan larinya, tak peduli darah di lututnya.

Sesampainya di Karaya Village, tiga orang penduduk melihat mereka tergeletak di tanah. Tiga penduduk itu memanggil penduduk yang lainnya, bahkan Riou, Tir, Gremio, Lucia dan Jimba. ”Apa yang terjadi pada kalian? Nafas kalian begitu cepat, tidak teratur!’ Tir keheranan melihat mereka bertiga. ”Hosh... hosh... hosh.. hosh.. hosh.. bi.. bia.. r.. kan.. aku.. ber.. istiraha..t .. di... sini,” muka Jowy tampak pucat. ”Tapi tidak di sini kalau kalian ingin beristirahat. Ayo kita bawa mereka ke rumah Lucia,” Gremio membantu memapah Jowy yang dibantu juga oleh Tir. Riou menggendong Nanami dan Lucia memapah Cleo.

Setelah keadaan mereka mulai tenang, Jowy menceritakan kejadian yang mereka bertiga alami di Plain of Armur North. Rumor mengenai para bandit memang benar-benar terjadi. Pemimpin bandit adalah Ressa, yang mendapat julukan ’Ratu dari segala bandit’. Satu tahun yang lalu, Ressa beserta kelompoknya berhasil mengambil seluruh kekayaan yang ada di pertambangan Tinto. Lima bulan yang lalu, Yaza Plain dijadikan sebagai tempat kekuasaannya, walaupun mereka tidak selalu berada di sana. Orang yang tidak beruntung pada saat pergi melewati Yaza Plain, tidak akan pernah selamat, entah kehilangan nyawa atau hanya dirampas barang-barangnya saja. Mereka sangat kuat dan kejam.

”Apa mereka akan datang ke sini dan akan menyerang Karaya?” Gremio tersentak. Cleo hanya menggelengkan kepala. Lucia beranjak dari tempat duduknya, ”kita harus bersiap-siap kapan pun mereka akan menyerang!” Kata Lucia mantap. ”Maafkan aku Lucia, ini semua kesalahan kami,” Jowy menundukan wajahnya. ”Ini bukan kesalahan kalian, memang seharusnya kita mulai waspada!” Kata Lucia.

xxx

Di Plain of Armur North, malam tiba, angin bertiup pelan, lolongan serigala mulai terdengar. Bulan bersembunyi di balik awan. Burung hantu menatap tajam sekumpulan bandit dari atas pohon. Para bandit sedang bersantap malam dan duduk-duduk di dekat api unggun. Ressa melap mulutnya yang basah, ia menanyakan apa mereka mengambil barng-barang dari Jowy, Nanami dan Cleo kepada bandit yang berada di sebelahnya. Si bandit menjawab tidak dan berkata bahwa mereka sepertinya bukan orang kaya, melainkan para petualang.

”Goblok! Kita sangat butuh banyak uang! Kalian semua idiot! Aku tidak peduli mereka kaya atau miskin! Yang aku perlukan hanya barang-barang mereka untuk kita jual, tolol!” Ressa melempar gelas peraknya ke dalam api unggun. ”Kau tahu Ressa, pria berambut pirang pendek tadi menggunakan salah satu pecahan dari 27 True Runes.. Kalau tidak salah.. dia mengeluarkan Black Sword Rune,” Tsuyoi mengajak Ressa berbicara tanpa peduli bahwa tadi Ressa murka.

”Black Sword Rune.. 17 tahun yang lalu pemiliknya adalah Raja Highland, Jowy Blight. Setelah Dunan Unification Wars berakhir, ia menghilang. Jangan-jangan... yang tadi kita serang adalah...” Ressa menggumam pada dirinya sendiri. Ia menanyakan kepada anak buahnya arah kemana Jowy dan teman-temannya kabur tadi. Salah satu anak buahnya sempat melihat bahwa mereka berlari ke arah Karaya Village. Senyum licik Ressa muncul, terbelesit di otaknya pikiran setan. Ia segera mengumumkan ide gila kepada anak-anak buahnya.

Ide gilanya adalah menyerang Karaya Village, membantai semuanya apabila ada yang menghalangi, kemudian mereka merampas seluruh kekayaan Karaya Village. Salah satu anak buahnya keberatan, ia mengatakan bahwa kepala desa Karaya Village adalah Flame Champion Hugo. ”Apa kau takut dengan Flame Champion, huh?! Jangan seperti bayi! Aku tidak pernah mengajari kalian untuk menjadi pengecut! Aku ingin komplotanku menjadi sangat kuat, mengerti?!” Ressa membentak semua anak buahnya.

”Ya Ratuku, kami sangat mengerti!” Seru para anak buahnya dengan gegap gempita. ””Bagus! Besok, kita akan menyerang Karaya Village! Aku tidak ingin mendengar salah satu dari kalian takut dengan Flame Champion Hugo! Ia hanya seorang bocah ingusan yang kebetulan saja menjadi pemilik True Fire Rune! Ayo berpesta!!! Ha.. ha.. ha.. ha.. ha... ha.. ha... ha.. ha..!!!” Gelak tawa Ressa seperti menggema ke seluruh dunia.

xxx

Riou menghampiri Nanami yang sedang duduk melamun. Nanami terlihat pucat dan ketakutan karena kejadian tadi sore di Plain of Armur North. Riou menanyakan ada apa, agar Nanami mengeluarkan uneg-uneg di hatinya. ”Aku sangat takut, Riou... Plain of Armur North dan Karaya Village begitu dekat.. aku mempunyai perasaan.. mereka akan menyerang desa ini.. walaupun aku tidak tahu kapan itu,” Nanami mendesah. ”Hello, dimana Nanami yang terlihat kuat dan pemberani itu?” Riou berusaha menenangkan Nanami.

Nanami menjawab, kadang kala manusia terlihat sangat kuat.. tetapi mereka bisa saja ketakutan sewaktu-waktu. Hanya saja, mereka dapat menyembunyikan rasa takut itu secara berbeda-beda. Kadang kala juga manusia dari luar terlihat kuat dari tampak depan, namun di dalam sana sebenarnya mereka lemah. Mereka mencari cara agar kelemahan itutidak tampak. Sebaliknya, orang yang terlihat lemah dari tampak depan, justru sangatlah kuat di dalamnya. Hanya saja kekuatan itu keluar kadang-kadang, mereka tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan keberanian mereka.

Riou berkata bahwa Nanami tidak sendirian di sini. Ia bersama dengan yang lainnya entah itu secara dekat maupun di luar sana. Sebagai adik Nanami, Riou akan melindungi Nanami dari apapun, ia tidak ingin kejadian Nanami yang tertembak panah 17 tahun yang lalu terulang kembali, hanya karena tidak ingin melihat Jowy dan Riou sebagai musuh. Ia tidak ingin Nanami mengorbankan apapun.

”Kau sangat baik sekali,Riou! Aku sangat berterima kasih karena memiliki saudara sepertimu dan kita adalah keluarga,” kemudian Nanami memeluk Riou. ”Lihat! Langitnya penuh dengan bintang!’ Riou menunjuk ke langit, Nanami melepas pelukannya. Mata Nanami berbinar. Nanami setuju bahwa langitnya indah karena penuh dengan bintang, begitu jernih. Tiba-tiba Nanami berkata bahwa ia merindukan Kakek Genkaku, dojo.. rumah mereka di Kyaro Town. Nanami berpendapat bahwa kakek mereka mungkin sedih karena kuburannya tidak ada yang merewat.

Riou sependapat dengan Nanami. Sudah 18 tahun Kakek Genkaku meninggal. Mungkin suatu hari nanti mereka bisa pulang ke Kyaro Town, Riou juga merindukan apa yang Nanami rindukan. Mereka berdoa kepada Genkaku, meminta perlindungan dan ketenangan bagi mereka, karena sebentar lagi kemungkinan mereka akan terjun ke dalam perang lagi. ”Waktunya tidur, hey kakak besarku! Aku tahu kau sangat lelah, ayolah pergi ke tempat tidurmu!” ”Okay, selamat malam.. Riou..” Nanami meninggalkan Riou yang masih duduk di rumput.

Pagi telah tiba, sesuatu terjadi di luar sana. Orang-orang sangat ribut, Jowy datang dan bertanya kepada Tir. ” Ada apa ini pagi-pagi? Mengapa semua orang berkumpul dan ribut-ribut?”. ” Oh, kau bangunnya telat. Kita diserang oleh para bandit itu dan Lucia akan datang.” . ” APA?!! Dimana mereka sekarang?!” ” Mereka di gerbang. Mereka membuat serangan mendadak, para penjaga membuat formasi agar mereka tidak bisa masuk. Kau seharusnya menyaipkan senjatamu karena kita akan berperang,” kata Tir.

Mereka tiba di gerbang bersama Lucia. ” Apa yang kalian inginkan?” Lucia melihat mereka dengan tatapan sinis. ” Jangan begitu marah! Kami hanya ingin mengambil seluruh kekayaan yang Karaya Village miliki,” jawab Ressa mencemooh. Jowy dan Tir muncul dari belakang Lucia, dan Ressa melihatnya. ” Oh, kita betemu kembali! Kau ingat aku, Jowy Blight?” kata Ressa, Jowy tercengang mendengarnya, mengapa ia bisa tahu namanya?

” Kapan kau berkenalan dengannya?” ejek Tir. ” Hey, aku tak punya waktu untuk memperkenalkan diriku dengan para bandit itu. Itu sama saja dengan bunuh diri!”. ” Jadi, kau tidak seperti Raja dari Highland, Jowy Blight!” ejek Ressa. ” Kalau saja kau tahu, kemarin dan sekarang berbeda. Kemarin, aku adalah seorang Raja yang bernama Jowy Blight. Sekarang aku adalah seorang pengembara yang bernama...”

” CUIH! Bsnyak omong!! Kami kesini hanya ingin merampok!!” potong Tsuyoi yang terlihat mulai kesal. ” Jika begitu, kau harus menghadapi kami pertama kali!” balas Lucia sengit. Mereka mulai berperang, orang-orang Karaya juga ikut bergabung dalam pertarungan untuk melindungi desa mereka. Hanya dalam waktu yang singkat, Riou berhasil melumpuhkan lima orang anak buah Ressa, disusul dengan Nanami yang ikut membantu adiknya.

Cleo menggunakan scroll magic dari kristal Wind Rune. Lucia menggunakan Fire Rune dan Jimba menggunakan Water Rune. Tir menggunakan Rune-nya yang sudah lama tidak ia gunakan yaitu Soul Eater Rune yang dapat menghilangkan segala jenis mahluk atau benda yang ada. Riou bertanya kepada Tir, ” Kira-kira mereka sampai kemana yah?” ” Entahlah, mungkin ke tempat yang sangat... sangat... sangaaaaat jauh. Aku berharap mengirim mereka ke 100 tahun yang lalu!” . Gremio berseru kepada Tir karena ia hendak diserang dari belakang tetapi Tir masih bisa menghindar.

” UPPS! Okay Riou, ini bukan waktunya membicarakan hal sepele seperti itu... ayo kita gabungkan serangan!!”. Nanami menyerang Tsuyoi, tapi dia terluka oleh serangan Tsuyoi. Jowy memberikan medicine dan menantang Tsuyoi sebagai pengganti kekasihnya itu.

Beberapa jam kemudian, pertarungan berakhir. Mereka menang, mereka dapat mengalahkan para bandit itu. ” Ingat!!! Aku akan kembali lagi untuk MEMBUNUH kalian semua dan menguasai desa ini!! Hari ini aku kalah tapi suatu hari nanti kemenangan berada di pihak kami, camkan hal itu baik-baik!!!” didengar dari nadanya pun Ressa terlihat sangat marah.

Para bandit telah pergi jauh dari Karaya Village. Segera Lucia berkata, ” Besok kita akan membuat rencana untuk perang melawan mereka. Sekarang kalian dapat beristirahat karena hari ini sangat melelahkan.”

Esok pagi mereka membuat rencana. Mereka berencana akan menjebak para bandit dari arah utara dan selatan dan kemungkinan rencana itu akan berhasil. Tetapi masalah dari rencana ini adalah bala tentara yang tidak cukup, sering kali para bandit bertambah banyak dan kemungkinan mereka bisa kalah.

Lucia berpikir apa yang semestinya ia lakukan? Jimba-lah yang memecahkan masalah itu. Ia memberikan gagasan bahwa mereka dapat mendapatkan bala bantuan dari Duck Village. Mereka bisa meminta Sgt. Joe dan tentaranya untuk membantu mereka dan saat itu mereka telah siap untuk berperang. Lucia teringat kalau Sgt. Joe tidak ikut bersama Hugo ke Vinay del Zexay. Bisa-bisanya Hugo tidak ada disini saat mereka mengahadapi masalah. Ia menyuruh seorang pelayang untuk menjemput Sgt. Joe dan tentaranya ke Duck Village.

Tiga jam kemudian...

” Maafkan aku, aku datang terlambat,” Sgt. Joe datang lalu berjabat tangan dengan yang lainnya. ”Terima kasih Sgt. Joe! Aku senang kau datang kemari, kau tau alasan aku menyuruh pelanyaku untuk menjemputmu?” kata Lucia dengan senang. ” Ya, aku tahu! Memang, para bandit itu adalah sumber masalah di Grassland, kita harus mengalahkannya dan jangan biarkan mereka membuat kerusuhan.” Jimba mengingatkan mereka untuk membuat rencana kembali karena mereka tidak punya banyak waktu.

Mereka sangat serius ketika sedang membuat rencana karena keinginan mereka utuk menang sangat besar. Disamping itu, mereka menginginkan Grassland damai dan tenang.

Beberapa jam kemudian...

” Oh! Jika kita mempunyai juru strategi, masalah kita dapat terpecahkan!” Tir memegang keningnya.

” Hugo dan Chris sedang berada di Harmonia dan akan kembali tiga hari kemudian,” tiba-tiba seorang pelayan muncul memberitahukan berita yang baru saja dia dengar dari salah satu tentara yang baru saja kembali dari Vinay del Zexay. ” APA??!!! Lalu berita apalagi yang kau dengar?” Lucia terkejut mendengar berita tersebut. Pelayan itu memberitahukan bahwa ia sudah menitipkan pesan untuk Hugo dan Chris agar mereka cepat kembali.

Setelah mendengar berita itu, Lucia menyuruh pelayannya untuk kembali bekerja. Ia menutup matanya karena ia sangat pusing dengan masalah yang runyam ini. Ia terduduk lemas, Cleo menyuruhnya untuk sedikit santai dan memberikannya minum.

Lucia menghabiskan minumannya, ia berkata ” Aku sekarang sangat membutuhkan bantuan dari putraku dan Chris. Tapi sekarang mereka sedang berada di Harmonia, apa yang mereka lakukan di sana?”. Gremio menepuk pundak Lucia untuk tidak menyerah. Yang dibalas dengan senyuman lemas oleh Lucia.

Sebelum matahari terbenam dan langit berubah menjadi gelap, seorang tentara memberitahukan bahwa posisi para bandit sedang berada di Plain of Armur. ” Bagus, saat yang tepat untuk kembali bertempur melawan mereka!” Jimba bangkit dari duduknya dan menghunuskan pedangnya dengan semangat ” Semua siap?!”. ” Kapan pun kami siap!!!!” jawab mereka penuh semangat. ” Ingat formasi yang tadi kita buat, jangan sampai kita gagal yang hasilnya akan berakibat fatal! Kita harus melindungi Karaya Villge!!!” ujar Gremio berapi-api. ” Ayolah, jangan membuang waktu lagi!” seru Riou yang tak kalah semangat.

Rabu, 18 Februari 2009

Gensou Suikoden: Heroes Come Back Again vol. 1 chap. 2

Chapter 2

Malam di Karaya Village sangat tenang, bulan bersinar terang dengan tiupan angin. Lolongan para serigala di Plain of Armur terdengar sayup-sayup, terkadang terdengar jelas. Orang-orang Karaya dan para tamu mereka tertidur pulas, kecuali para penjaga. Para penjaga sedang berpatroli untuk ketenangan malam di desa itu.

Di kamar wanita, Cleo dan Nanami tidurnya tenang hingga Nanami mendengar sesuatu. ”Tolong! Siapa pun tolong aku!” Nanami tersentak dari tidurnya, ia mencoba untuk mendengar kembali siapa tahu suara tadi hanya berasal dari mimpinya, suara tadi terdengar kembali. Nanami membangunkan Cleo. ”Cleo.. Cleo.. bangunlah!” Bisik Nanami. ”Erh.. mh.. ada apa Nanami?” Jawabnya berbisik juga. ”Tidakkah kau menengar seseorang meminta tolong?” Bisik Nanami. Mereka berdua mencoba mendengarkan lebih teliti. ”TOLOOONNNGG!!!!” Teriak seseorang. ”Ayo kita bangunkan para pria dan kita lihat apa yang terjadi!” Cleo segera menarik Nanami.

Di depan pintu kamar... ”Cleo? Nanami?” Gremio agak terkejut. ”Kami mendengarkan seseorang meminta tolong,” Cleo langsung menjelaskan. ”Kami juga mendengarnya. Orang itu berlari ke arah rumah Lucia, ayo!” Riou bergegas lebih dulu.

Setelah agak dekat rumah Lucia, terjadilah ribut-ribut... ”Katakan padaku, apa yang terjadi?!” Suara Lucia agak meninggi. Belum sempat menjawab, penjaga itu pingsan. ”Ada apa Lucia?” Jowy heran melihat penjaga itu pingsan. ”Entahlah, dia belum mengatakan apapun,” Lucia agak kesal. Datanglah seorang penjaga lagi dengan lari terbirit-birit. ”Nyonya Lucia! Nyonya Lucia! TOLONG!!”

”Ada apa ini?! Kau meminta tolong, dan temanmu juga sampai-sampai ia pingsan! Apa yang terjadi?! Aku tidak mengerti!!” Lucia MULAI KESAL. Penjaga tersebut menjelaskan bahwa ia melihat hantu. Lucia tidak percaya, baginya itu hanya omong kosong dan jelas-jelas mereka telah mengganggu ketenangan para penduduk. Penjaga itu bersikeras, ia menjelaskan sekali lagi bahwa hantu yang ia lihat adalah Jimba. ”J..Jimba.. hidup.. kembali!!” Penjaga itu menegaskan. ”Tidak mungkin! Dia telah tewas.. dan.. dan..” Lucia sesaat terdiam, ia melihat sesuatu hal yang tidak mungkin baginya dan langsung berteriak. ”AAAAARRRRGGGGHHH!!!! TIDAK MUNGKIN!!!” Lucia pun pingsan. ”Lucia?!” Mereka terkejut. ”Riou! Tir! Bawa Lucia ke dalam rumah! Dan kau, bawa temanmu kembali ke rumahnya!” Perintah Cleo.

Gremio menghampiri orang yang ditakuti oleh kedua penjaga dan Lucia. ”Apa kau yang dimaksud mereka? Maksudku, apa kau orang yang bernama Jimba?” Gremio agak setengah takut. ”Iya kau benar. Aku tidak ingin menakuti yang lainnya, mari kita selesaikan masalah ini di dalam saja,” ajak Jimba.

Sepuluh menit kemudian, Lucia telah sadar. ”Apa kau baik-baik saja Lucia?” Nanami membantu Lucia bangun. ’Hah! Nanami, katakan padaku kalau kejadian yang tadi itu tidak nyata. Aku melihat sahabatku, Jimba, hidup kembali dan..” Lucia begitu panik. ”Maafkan aku Lucia, tetapi kenyataannya aku hidup kembali,” suara Jimba membuat Lucia merinding.

”T..tapi bagaimana mungkin?! Kau tewas di Sindar Ruin!” Kepanikan Lucia semakin bertambah. ”Bisakah aku menjelaskan semuanya?” Pinta Jimba. ”Kau dapat menjelaskan semuanya agar masalah ini selesai,” jawab Riou. Semua terdiam selama beberapa menit dan mereka menginginkan Lucia tenang terlebih dahulu. Akhirnya Lucia siap untuk mendengarkan penjelasan Jimba.

Awalnya Jimba juga tidak mengerti mengapa ia hidup kembali sampai ada sesorang yang menceritakan bahwa belum lama ini keanehan di dunia terjadi seperti berkurangnya umur semua orang, beberapa yag mati hidup kembali seperti Jimba. Malapetaka akan kembali lagi. Gremio menanyakan mengapa Jimba tewas. Jimba tewas dikarenakan karena ia ingin menyelamatkan True Water Rune dari tangan Masked Bishop di Sindar Ruin. Jimba adalah pemegang True Water Rune 52 tahun yang lalu.

Maskud Masked Bishop ingin merebut True Water Rune dari Jimba adalah, ia ingin menghancurkan dunia dengan cara mengumpulkan lima elemen dari True Runes. Alasan mengapa Masked Bishop ingin menghancurkan True Runes dan dunia ini adalah ia terlalu benci dengan kehidupannya. Ia begitu menderita karena ia immortal. Setiap peperangan yang ia alami, selalu saja berhubungan dengan True Runes.

”Sebenarnya, siapa sebenarnya Masked Bishop ?” Cleo penasaran. ”Masked Bishop adalah Luc, pemegang True Wind Rune,” jawab Lucia. Semua terkejut, mereka tidak percaya apa yang dikatakan Lucia. ”Luc?! Luc yang pernah bergabung dengan kami saat di Allied Army itu? Aku tidak percaya! Bagaimana mungkin?” Nanami berharap mereka hanya membual, tapi tidak. ”Yang aku tahu hanya... Luc bekerja sama dengan Yuber, Albert Silverberg dan Sarah. Mereka telah melakukan coup d’etat terhadap Bishop Sasarai, ” kemudian Lucia meminum air yang tadi diberikan oleh Cleo.

”Yuber?!” Seru Jowy dan Tir bersamaan. Tir menggeram dan mukanya sangat marah, ”aku ingat saat Yuber, Windy dan Neclord membakar Village of The Hiden untuk mencuri Soul Eater Rune dari kakek Ted, dan berusaha untuk memburu Ted. Mereka akhirnya gagal, karena Ted telah memindahkan True Rune ini kepadaku... dan mereka membunuhnya!!” Tir hampir menggebrak meja, tapi ditahan oleh Gremio. ”Tuan Muda Tir, tolong.. jangan ingat kejadian itu lagi,” pinta Gremio.

”Lucia, apa kau ingat saat kita membayarnya utnuk merebut Greenhill City dan mengalahkan pasukan Allied Army?” Tanya Jowy. ”Ya, aku ingat. Tapi dia melarikan diri sebelum Highland kalah telak,” jawab Lucia.

Riou berpikir, bagaimana mungkin semua 27 True Runes dapat dihancurkan tanpa induk rune? Induk Rune dari semua 27 True Runes adalah Rune of Beginning yang terpisah menjadi Bright Shield Rune yang dipegang oleh Riou dan Black Sword Rune yang dipegang oleh Jowy. Bagaimana mungkin 27 True Runes hancur karena lima elemen True Runes yang bukan induk 27 True Runes, apa masih ada kaitannya? Kalau ia berkesempatan untuk bertemu dengan Lady Leknaat, akan ia tanyakan hal itu.

”Lalu, siapa pemegang True Water Rune yang sekarang?” Jowy sedikit penasaran. Jimba menjawab bahwa pemegang True Water Rune yang sekarang adalah anak perempuannya, Chris Lightfellow. Mereka berpikir kembali, kalaupun Jimba hidup kembali, apakah musuh-musuh yang dulu pernah mereka hadapi lalu yang telah mati... akan bangkit kembali? Mimpi yang buruk akan membawa mereka kembali. Masa-masa yang tenang, kini akan menjadi masa-masa yang kacau. Sepertinya waktu akan terulang kembali.

Nanami sudah tertidur dipundak Jowy. Mereka semua berpamitan untuk kembali ke penginapan. Malam sudah terlalu larut.. mungkin sebentar lagi pagi akan menjelang.

Pagi telah datang, burung-burung berkicauan. Udaranya menyegarkan, kabut malam telah menghilang dan berubah menjadi embun di daun-daun. Matahari bersinar terang, Nanami masih tidur hingga sinar matahari mengenai wajahnya, ia pun terbangun. Ia melihat Cleo sudah tidak berada di tempat tidur. Ia keluar dari kamar, penjaga penginapan bahwa mereka sedang sarapan bersama orang-orang.

Ketika Nanami keluar dari penginapan... ”Hei lihat, Nanami kesiangan!” Seru Jowy. ”Jowy jangan mulai, aku terlalu capek! Aku akan mencuci muka lalu bergabung dengan kalian . Lihat Jowy, kau makan sangat berantakan!” Nanami memberikan senyuman ejekan lalu pergi. ”Heh, sausnya ada di pipi kanan dan di dagu,” Riou menunjukan dengan tidak menyentuh pipi kanan dan dagu Jowy. ”Kau makan seperti bayi lima bulan!” Ejek Tir lalu tertawa hingga Tir tersedak. ”Oh sialan! Rasakan itu Tir!” Geram Jowy.

Selesai bersarapan... ”Yeah... sarapan yang menyenangkan walaupun aku tadi sedikit tersedak,” kata Tir yang kemudian meminum secangkir kopi. Nanami hendak berbicara sambil makan, tetapi Riou melarangnya. Riou menyuruh agar Nanami menelan makanan terlebih dahulu. Lalu Nanami menelan dagingnya.

”Riou... mengapa Luc bertindak seperti itu? Mengapa ia mempunyai niat untuk menghancurkan lima True Runes? Mengapa ia membenci kehidupan immortalnya? Kalian bertiga tidak terlihat seperti itu?” Nanami memndang Riou dalam-dalam. Sesaat Riou terdiam, kemudian ia menjawab, ”aku tidak tahu mengenai hal itu. Kejadian seperti 17 tahun yang lalu, saat Jowy yang bersahabat dengan kita tiba-tiba menjadi musuh kita.” ”Hei, aku yang seperti sekarang tidak seperti itu!” Jowy agak tersinggung. ”Aku hanya mengumpamakan Luc seperti kejadianmu, Jowy! Jangan diambil hati donk!” Riou memutar bola matanya.

Jowy menambahi penjelasan Riou. Ia sangat mengerti apa yang Luc rasakan, tetapi situasi dan kondisinya berbeda. Luc membenci kehidupan immortalnya, sehingga ia berambisi untuk menghancurkan True Runes serta kehidupan di dunia. Sedangkan Jowy mengagumi Luca Blight dan berambisi untuk mewujudkan impian Highland serta menjadi Raja walaupun bayarannya adalah ia harus meninggalkan sahabat-sahabatnya yang dari kecil. Persamaannya adalah dari kata ambisi, ya.. keduanya sama-sama berambisi untuk mencapai sesuatu walaupun harus kehilanhan nyawa, yang terpenting ambisi itu terlaksana dengan sempurna. Tapi seringkali ambisi yang berlebihan selalu berakhir dengan tragis, mereka dikalahkan oleh penetang ambisi mereka.

”Nanami, kau bilang kami tidak benci menjadi immortal, bukan? Kalau saja kau tahu.. kami juga sama dengan Luc.. sangat benci dan menderita. Kami hidup di bawah kutukan True Runes, tidak ada seorang pun yang menginginkan kehidupan ini. Kami ingin sekali hidup layaknya manusia normal, tidak dengan beban penderitaan yang diberikan True Runes kepada kami...” wajah Tir memelas. ”Kami berjuang menjalani takdir ini sebagai orang normal, walaupun kenyataannya tidak demikian. Suatu hari, jika kami sudah lelah dengan takdir ini dan umur kami sudah cukup untuk mati.. kami akan melepaskan True Rune ini... dan mati normal..” Riou menambahi dengan senyum yang kecut.

Nanami tercengang melihat Riou, Tir dan Jowy. Seberapa besar sebenarnya penderitaan mereka. Seberapa besar kemampuan mereka menutupi rasa penderitaan itu. Mereka terlalu hebat.. untuk menjalani takdir yang bisa dibilang kejam. Tiba-tiba mata Nanami berlinang, cepat-cepat Nanami menghapusnya agar yang lain tidak melihat, tetapi Gremio melihatnya, jadi ia pura-pura tidak melihat saja.

Di rumah Lucia, Jimba sedang minum secangkir kopi, ia melihat ke arah luar sambil tersenyum. ”Aku dapat merasakan Karaya baru setelah dibangun kembali karena dibakar dua tahun yang lalu,” mata Jimba belum beralih dari pandangan di luar sana. ”Kemudian putraku menjadi kepala desa ini,” Lucia mengaduk-aduk kopinya. ”Oh ya, aku tidak melihat Hugo. Dimana dia?” Jimba baru sadar kalu Hugo belum menampakkan batang hidungnya.

Tiba-tiba Lucia tertawa. Jimba memandang Lucia dengan pandangan yang baneh. Kemudian Jimba menanyakan ada apa, tetapi Lucia tetap tertawa. Akhirya Lucia menjelaskan semuanya.

Hugo dan Chris telah menikah setengah tahun yang lalu. Mereka berdua memutuskan utnuk tidak memiliki anak terlebih dahulu. Kini mereka sedang berada di Vinay del Zexay dan akan kembali secepatnya. Jimba sangat senang mendengarnya karena Chris mendapat suami yang baik. Jimba sangat mempercayai Hugo.

”Jika Chris melihat dirimu hidup kembali, dia pasti akan terkejut dan menangis. Kau tahu, saat ia berumur lima tahun, dia selalu mencari dan menunggumu untuk kembali pulang ke rumah. Setelah dia beranjak remaja, ia selalu mencarimu. Setelah dia menemukanmu, kau tewas... dan meniggalkannya lagi,” Lucia mengingatkan hal pahit yang dirasakan Chris kepada Jimba. Lucia menambahi, ”Jika ia tahu kau hidup kembali, pastinya ia akan menghabiskan waktunya hanya untuk bersamamu.”

”Ya, kau benar! Walaupun ia kuat dan tegar, ia selalu merindukan akan kasih sayang orang tua. Ini semua kesalahanku.. aku meninggalkannya tanpa mengucapkan selamat tinggal.. atau aku akan pulang. Kasihan Chris...” Jimba sangat menyesal. ”Ini akan baik-baik saja, hey temanku! Ini belum terlambat. Kau bisa bilang ’lihat, aku kembali! Datanglah kepada ayahmu ini’ benar? Dia tidak akan mungkin membencimu, Jimba,” hibur Lucia. ”Haha.. kau benar Lucia! Mengapa aku harus berpikiran yang bodoh? Terima kasih, Lucia!” Jimba merasa lega hatinya.

xxx

Setelah Tir, Riou, Jowy dan Gremio selesai mandi, Cleo mengajak mereka untuk jalan-jalan keluar dari Karaya, lebih tepatnya berbelanja ke Duck Village. ”Kalian tahu, kita tidak mempunyai uang cukup utnuk berbelanja!” Protes Tir. ”Oh, ayolah Tuan Muda Tir! Kami memiliki persedian uang untuk berbelanja. Ayolah!’ Ajak Cleo. ”Aku tidak mau, pria yang disana mengajak kami untuk balapan kuda bersama Riou, benar?” Tir memegang pundak Riou. Riou mengangguk setuju, ”itu benar. Maafkan kami teman!” Kemudian Riou dan Tir pergi sambil melambaikan tangan.

”Aku ikut berbelanja dengan kalian,” kata Jowy dari belakang. ”Oh Jowy, kau sangat baik! Aku cinta padamuuuu!!!” Nanami memeluk Jowy erat-erat. ”Kau ikut, Gremio?” Jowy menoleh ke arah Gremio. ”Tidak, aku ingin melihat balapan kuda. Kalian bersenang-senganglah! Kapan kalian akan pulang?” Tanya Gremio. ”Tepatnya sebelum makan malam tiba,” Cleo meyakinkan Gremio. ”Jangan terlambat! Kami akan menunggu kalian!” Sahut Riou dari jauh. ”Hey, bagaimana Riou bisa mendengar sejauh itu? Apa ia memiliki pendengaran yang super?” Nanami heran, ia mengerutkan dahinya. Kemudian mereka melambaikan tangan kepada Gremio.

Mereka berpamitan terlebih dahulu kepada para penjaga. ”Berhati-hatilah, di Plain of Armur North banyak monster-monster walaupun ukuran mereka kecil,” Penjaga yang di sebelah kiri mengingatkan mereka. ”Tapi, ada rumor mengatakan bahwa sewaktu-waktu para bandit akan datang. Mereka akan mengambil semua barang-barangmu dan menghajar kalian, hingga kalian tak berdaya lagi,” Penjaga yang di sebelah kanan menambahi. ”Itu rumor, benar? Tidak masalah, kami dapat mengatasinya. Jangan percaya omongan burung jika tidak ada buktinya,’ Jowy meyakinkan.

”Ya, tapi apapun yang terjadi kalian harus berwaspada!” Sekali lagi penjaga itu mengingatkan. ”Terima kasih telah memperingatkan kami sebelumnya,” Cleo tersenyum. Mereka pun pergi.

Sesampainya di Duck Village, mereka di sambut oleh para penjaga. Mereka pergi ke penginapan untuk makan siang. Setelah itu, mereka berbelanja. Mereka akan menyebar. Apabila salah satu diantara mereka telah selesai berbelanja, mereka harus menunggu yang lainnya di tempat tukang lottere.

Sore pun telah tiba. Yang selesai belanja pertama adalah Jowy. Jowy iseng-iseng ikut undian lottere. Keberentungan sedang berpihak padanya, ia menang. Jowy mendapatkan hadih ke dua. Cleo akhirnya datang, ”dimana Nanami?” Cleo melihat Nanami tidak sedang bersama Jowy. ”Aku di sini!!” Seru Nanami, ia berlari menghampiri mereka. ”Ingin pulang sekarang?” Jowy telah bersiap-siap. ”Ya, hari hampir petang. Aku tidak ingin membuat yang lainnya khawatir,” kata Cleo.