Chapter 3
”Apa yang kau beli Jowy?” Nanami kemudian melihat kantung isi belanjaan Jowy. ”Oh, aku membelikan barang-barang untuk Riou, Tir, Gremio dan untuk kita bertiga,” Jowy membetulkan kantung belanjaannya kembali. ”kau sangat baik sekali! Mereka tidak ikut belanja, tapi kau membelikannya untuk mereka,” Nanami sangat heran dengan Jowy. ”Hei, lihat itu!’ Tunjuk Cleo.
Sesuatu dari kejauhan, perlahan-lahan terdengar derapan kuda yang semakin jelas. Ringkikan kudan diiringi teriakan, seperti teriakan setan. Setelah terlihat agak dekat, mereka sejumlah kuda dengan penunggangnya datang berkelompok, mungkin jumlah mereka kurang lebih 50 orang. Mereka menghampiri ketiganya. Ketiganya menatap waspada. ”Viuu!! Hey lihat! Kita mendapatkan harta karun yang besar!” Pria berambut hitam setengah panjang menggunakan kaus putih tak berlengan menyeringai. ”Apa yang kalian maksud ’harta karun yang besar’?” Tanya Jowy dingin. ”Tolol! Jika kami berkata seperti itu, apa kalian tidak tahu kami adalah...” Seorang wanita berambut emas muncul dari belakang. Nanami terpekik, ”mereka adalah bandit..” bisiknya.
”Hey lihat! Ada wanita-wanita imut!” ”Hati-hati dengan tanganmu, hidung pesek!” Nanami mulai kesal. ”Hey gadis, jangan marah! Kami hanya ingin bersenang-senang denganmu!” Kemudia pria berambut hitam tertawa terbahak-bahak diikuti para bandit yang lain. Mata Jowy memberi isyarat untuk menyiapkan senjata mereka. Tetapi pria berambut hitam melihat gerakan isyarat mereka. ”Ho.. mereka berani sekali! Ressa apa kau siap?” Ia menoleh ke arah wanita berambut emas yang berekspresi ketus. ”Jangan tanyakan aku seperti itu, Tsuyoi! Karena aku selalu siap menghadapi para bayi seperti mereka,” Cara bicaranya begitu merendahkan.
”Terseraha kalian mau berkata apa... terima ini!!!!” Nanami menyerang Tsuyoi. Gerakan Tsuyoi sangat cekatan, ia melompat dari kudanya, tongkat yang ia pegang, ia patahkan menjadi dua sehingga menjadi dua tombak. Dia membalas menyerang Nanami, tetapi meleset. Nanami kembali memukulnya keras-keras. Jowy menyerang Ressa dan Cleo berusaha mengahabisi bandit-bandit yang lain. Sudah setengah jam, tetapi mereka masih bertarung dengan para bandit, anehnya.. jumlah mereka semakin membanyak.
”Hosh.. hosh.. hosh.. hosh.. ini.. tida..k.. baik... aku.. sangat lelah!!” Keringat Nanami bercucuran di wajahnya. ”Apa yang sedang kau pikirkan Jowy?” Cleo menggigit bibir bawahnya. Jowy memejamkan matanya sebentar. ”Aku akan menggunakan Black Sword Rune. Aku akan mencobanya. Masalahnya, aku tidak menggunakan Rune ini selama beberapa tahun,” Jowy melihat tangan kanannya yang ditutupi sarung tangan beludru kuning gading. ”Oh Jowy.. cobalah! Kau pasti bisa! Aku tidak ingin mati di sini hanya karena bandit-bandit brengsek!!’ Nanami mulai kesal.
Jowy berpikir, jika ia berhasil menggunakan Black Swor Rune tanpa hambatan, mereka akan berlari secepat mungkin untuk kembali ke Karaya Village dan meminta tolong. Situasi bertarung tidak memungkinkan, mereka hanya bertiga! Apa yang dapat dilakukuan tiga orang melawan 50 bandit kecuali kabur. Jowy meneguhkan hatinya, ia sangat berharap dengan Black Sword Rune. Perlahan-lahan sinar dari punggung tangan kanannya menyala, segera ia melepaskan sarung tangan kanannya. ”Black Sword Rune!!!!” Kemudian sinar yang besar terpencar menyilaukan, angin-angin berhembus kencang, daun-daun berterbangan. Para bandit menutup matanya karena silau.
”Sekarang... lari!!!!” Teriak Jowy. Mereka lari sangat kencang. Cleo tidak memperhatikan jalan di depannya, ia tersandung batu. Darah segar keluar dari lutut kanannya, ia merasa agak mati rasa. ”Oh sialan!” Cleo melanjutkan larinya, tak peduli darah di lututnya.
Sesampainya di Karaya Village, tiga orang penduduk melihat mereka tergeletak di tanah. Tiga penduduk itu memanggil penduduk yang lainnya, bahkan Riou, Tir, Gremio, Lucia dan Jimba. ”Apa yang terjadi pada kalian? Nafas kalian begitu cepat, tidak teratur!’ Tir keheranan melihat mereka bertiga. ”Hosh... hosh... hosh.. hosh.. hosh.. bi.. bia.. r.. kan.. aku.. ber.. istiraha..t .. di... sini,” muka Jowy tampak pucat. ”Tapi tidak di sini kalau kalian ingin beristirahat. Ayo kita bawa mereka ke rumah Lucia,” Gremio membantu memapah Jowy yang dibantu juga oleh Tir. Riou menggendong Nanami dan Lucia memapah Cleo.
Setelah keadaan mereka mulai tenang, Jowy menceritakan kejadian yang mereka bertiga alami di Plain of Armur North. Rumor mengenai para bandit memang benar-benar terjadi. Pemimpin bandit adalah Ressa, yang mendapat julukan ’Ratu dari segala bandit’. Satu tahun yang lalu, Ressa beserta kelompoknya berhasil mengambil seluruh kekayaan yang ada di pertambangan Tinto. Lima bulan yang lalu, Yaza Plain dijadikan sebagai tempat kekuasaannya, walaupun mereka tidak selalu berada di sana. Orang yang tidak beruntung pada saat pergi melewati Yaza Plain, tidak akan pernah selamat, entah kehilangan nyawa atau hanya dirampas barang-barangnya saja. Mereka sangat kuat dan kejam.
”Apa mereka akan datang ke sini dan akan menyerang Karaya?” Gremio tersentak. Cleo hanya menggelengkan kepala. Lucia beranjak dari tempat duduknya, ”kita harus bersiap-siap kapan pun mereka akan menyerang!” Kata Lucia mantap. ”Maafkan aku Lucia, ini semua kesalahan kami,” Jowy menundukan wajahnya. ”Ini bukan kesalahan kalian, memang seharusnya kita mulai waspada!” Kata Lucia.
xxx
Di Plain of Armur North, malam tiba, angin bertiup pelan, lolongan serigala mulai terdengar. Bulan bersembunyi di balik awan. Burung hantu menatap tajam sekumpulan bandit dari atas pohon. Para bandit sedang bersantap malam dan duduk-duduk di dekat api unggun. Ressa melap mulutnya yang basah, ia menanyakan apa mereka mengambil barng-barang dari Jowy, Nanami dan Cleo kepada bandit yang berada di sebelahnya. Si bandit menjawab tidak dan berkata bahwa mereka sepertinya bukan orang kaya, melainkan para petualang.
”Goblok! Kita sangat butuh banyak uang! Kalian semua idiot! Aku tidak peduli mereka kaya atau miskin! Yang aku perlukan hanya barang-barang mereka untuk kita jual, tolol!” Ressa melempar gelas peraknya ke dalam api unggun. ”Kau tahu Ressa, pria berambut pirang pendek tadi menggunakan salah satu pecahan dari 27 True Runes.. Kalau tidak salah.. dia mengeluarkan Black Sword Rune,” Tsuyoi mengajak Ressa berbicara tanpa peduli bahwa tadi Ressa murka.
”Black Sword Rune.. 17 tahun yang lalu pemiliknya adalah Raja Highland, Jowy Blight. Setelah Dunan Unification Wars berakhir, ia menghilang. Jangan-jangan... yang tadi kita serang adalah...” Ressa menggumam pada dirinya sendiri. Ia menanyakan kepada anak buahnya arah kemana Jowy dan teman-temannya kabur tadi. Salah satu anak buahnya sempat melihat bahwa mereka berlari ke arah Karaya Village. Senyum licik Ressa muncul, terbelesit di otaknya pikiran setan. Ia segera mengumumkan ide gila kepada anak-anak buahnya.
Ide gilanya adalah menyerang Karaya Village, membantai semuanya apabila ada yang menghalangi, kemudian mereka merampas seluruh kekayaan Karaya Village. Salah satu anak buahnya keberatan, ia mengatakan bahwa kepala desa Karaya Village adalah Flame Champion Hugo. ”Apa kau takut dengan Flame Champion, huh?! Jangan seperti bayi! Aku tidak pernah mengajari kalian untuk menjadi pengecut! Aku ingin komplotanku menjadi sangat kuat, mengerti?!” Ressa membentak semua anak buahnya.
”Ya Ratuku, kami sangat mengerti!” Seru para anak buahnya dengan gegap gempita. ””Bagus! Besok, kita akan menyerang Karaya Village! Aku tidak ingin mendengar salah satu dari kalian takut dengan Flame Champion Hugo! Ia hanya seorang bocah ingusan yang kebetulan saja menjadi pemilik True Fire Rune! Ayo berpesta!!! Ha.. ha.. ha.. ha.. ha... ha.. ha... ha.. ha..!!!” Gelak tawa Ressa seperti menggema ke seluruh dunia.
xxx
Riou menghampiri Nanami yang sedang duduk melamun. Nanami terlihat pucat dan ketakutan karena kejadian tadi sore di Plain of Armur North. Riou menanyakan ada apa, agar Nanami mengeluarkan uneg-uneg di hatinya. ”Aku sangat takut, Riou... Plain of Armur North dan Karaya Village begitu dekat.. aku mempunyai perasaan.. mereka akan menyerang desa ini.. walaupun aku tidak tahu kapan itu,” Nanami mendesah. ”Hello, dimana Nanami yang terlihat kuat dan pemberani itu?” Riou berusaha menenangkan Nanami.
Nanami menjawab, kadang kala manusia terlihat sangat kuat.. tetapi mereka bisa saja ketakutan sewaktu-waktu. Hanya saja, mereka dapat menyembunyikan rasa takut itu secara berbeda-beda. Kadang kala juga manusia dari luar terlihat kuat dari tampak depan, namun di dalam sana sebenarnya mereka lemah. Mereka mencari cara agar kelemahan itutidak tampak. Sebaliknya, orang yang terlihat lemah dari tampak depan, justru sangatlah kuat di dalamnya. Hanya saja kekuatan itu keluar kadang-kadang, mereka tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan keberanian mereka.
Riou berkata bahwa Nanami tidak sendirian di sini. Ia bersama dengan yang lainnya entah itu secara dekat maupun di luar sana. Sebagai adik Nanami, Riou akan melindungi Nanami dari apapun, ia tidak ingin kejadian Nanami yang tertembak panah 17 tahun yang lalu terulang kembali, hanya karena tidak ingin melihat Jowy dan Riou sebagai musuh. Ia tidak ingin Nanami mengorbankan apapun.
”Kau sangat baik sekali,Riou! Aku sangat berterima kasih karena memiliki saudara sepertimu dan kita adalah keluarga,” kemudian Nanami memeluk Riou. ”Lihat! Langitnya penuh dengan bintang!’ Riou menunjuk ke langit, Nanami melepas pelukannya. Mata Nanami berbinar. Nanami setuju bahwa langitnya indah karena penuh dengan bintang, begitu jernih. Tiba-tiba Nanami berkata bahwa ia merindukan Kakek Genkaku, dojo.. rumah mereka di Kyaro Town. Nanami berpendapat bahwa kakek mereka mungkin sedih karena kuburannya tidak ada yang merewat.
Riou sependapat dengan Nanami. Sudah 18 tahun Kakek Genkaku meninggal. Mungkin suatu hari nanti mereka bisa pulang ke Kyaro Town, Riou juga merindukan apa yang Nanami rindukan. Mereka berdoa kepada Genkaku, meminta perlindungan dan ketenangan bagi mereka, karena sebentar lagi kemungkinan mereka akan terjun ke dalam perang lagi. ”Waktunya tidur, hey kakak besarku! Aku tahu kau sangat lelah, ayolah pergi ke tempat tidurmu!” ”Okay, selamat malam.. Riou..” Nanami meninggalkan Riou yang masih duduk di rumput.
Pagi telah tiba, sesuatu terjadi di luar sana. Orang-orang sangat ribut, Jowy datang dan bertanya kepada Tir. ” Ada apa ini pagi-pagi? Mengapa semua orang berkumpul dan ribut-ribut?”. ” Oh, kau bangunnya telat. Kita diserang oleh para bandit itu dan Lucia akan datang.” . ” APA?!! Dimana mereka sekarang?!” ” Mereka di gerbang. Mereka membuat serangan mendadak, para penjaga membuat formasi agar mereka tidak bisa masuk. Kau seharusnya menyaipkan senjatamu karena kita akan berperang,” kata Tir.
Mereka tiba di gerbang bersama Lucia. ” Apa yang kalian inginkan?” Lucia melihat mereka dengan tatapan sinis. ” Jangan begitu marah! Kami hanya ingin mengambil seluruh kekayaan yang Karaya Village miliki,” jawab Ressa mencemooh. Jowy dan Tir muncul dari belakang Lucia, dan Ressa melihatnya. ” Oh, kita betemu kembali! Kau ingat aku, Jowy Blight?” kata Ressa, Jowy tercengang mendengarnya, mengapa ia bisa tahu namanya?
” Kapan kau berkenalan dengannya?” ejek Tir. ” Hey, aku tak punya waktu untuk memperkenalkan diriku dengan para bandit itu. Itu sama saja dengan bunuh diri!”. ” Jadi, kau tidak seperti Raja dari Highland, Jowy Blight!” ejek Ressa. ” Kalau saja kau tahu, kemarin dan sekarang berbeda. Kemarin, aku adalah seorang Raja yang bernama Jowy Blight. Sekarang aku adalah seorang pengembara yang bernama...”
” CUIH! Bsnyak omong!! Kami kesini hanya ingin merampok!!” potong Tsuyoi yang terlihat mulai kesal. ” Jika begitu, kau harus menghadapi kami pertama kali!” balas Lucia sengit. Mereka mulai berperang, orang-orang Karaya juga ikut bergabung dalam pertarungan untuk melindungi desa mereka. Hanya dalam waktu yang singkat, Riou berhasil melumpuhkan lima orang anak buah Ressa, disusul dengan Nanami yang ikut membantu adiknya.
Cleo menggunakan scroll magic dari kristal Wind Rune. Lucia menggunakan Fire Rune dan Jimba menggunakan Water Rune. Tir menggunakan Rune-nya yang sudah lama tidak ia gunakan yaitu Soul Eater Rune yang dapat menghilangkan segala jenis mahluk atau benda yang ada. Riou bertanya kepada Tir, ” Kira-kira mereka sampai kemana yah?” ” Entahlah, mungkin ke tempat yang sangat... sangat... sangaaaaat jauh. Aku berharap mengirim mereka ke 100 tahun yang lalu!” . Gremio berseru kepada Tir karena ia hendak diserang dari belakang tetapi Tir masih bisa menghindar.
” UPPS! Okay Riou, ini bukan waktunya membicarakan hal sepele seperti itu... ayo kita gabungkan serangan!!”. Nanami menyerang Tsuyoi, tapi dia terluka oleh serangan Tsuyoi. Jowy memberikan medicine dan menantang Tsuyoi sebagai pengganti kekasihnya itu.
Beberapa jam kemudian, pertarungan berakhir. Mereka menang, mereka dapat mengalahkan para bandit itu. ” Ingat!!! Aku akan kembali lagi untuk MEMBUNUH kalian semua dan menguasai desa ini!! Hari ini aku kalah tapi suatu hari nanti kemenangan berada di pihak kami, camkan hal itu baik-baik!!!” didengar dari nadanya pun Ressa terlihat sangat marah.
Para bandit telah pergi jauh dari Karaya Village. Segera Lucia berkata, ” Besok kita akan membuat rencana untuk perang melawan mereka. Sekarang kalian dapat beristirahat karena hari ini sangat melelahkan.”
Esok pagi mereka membuat rencana. Mereka berencana akan menjebak para bandit dari arah utara dan selatan dan kemungkinan rencana itu akan berhasil. Tetapi masalah dari rencana ini adalah bala tentara yang tidak cukup, sering kali para bandit bertambah banyak dan kemungkinan mereka bisa kalah.
Lucia berpikir apa yang semestinya ia lakukan? Jimba-lah yang memecahkan masalah itu. Ia memberikan gagasan bahwa mereka dapat mendapatkan bala bantuan dari Duck Village. Mereka bisa meminta Sgt. Joe dan tentaranya untuk membantu mereka dan saat itu mereka telah siap untuk berperang. Lucia teringat kalau Sgt. Joe tidak ikut bersama Hugo ke Vinay del Zexay. Bisa-bisanya Hugo tidak ada disini saat mereka mengahadapi masalah. Ia menyuruh seorang pelayang untuk menjemput Sgt. Joe dan tentaranya ke Duck Village.
Tiga jam kemudian...
” Maafkan aku, aku datang terlambat,” Sgt. Joe datang lalu berjabat tangan dengan yang lainnya. ”Terima kasih Sgt. Joe! Aku senang kau datang kemari, kau tau alasan aku menyuruh pelanyaku untuk menjemputmu?” kata Lucia dengan senang. ” Ya, aku tahu! Memang, para bandit itu adalah sumber masalah di Grassland, kita harus mengalahkannya dan jangan biarkan mereka membuat kerusuhan.” Jimba mengingatkan mereka untuk membuat rencana kembali karena mereka tidak punya banyak waktu.
Mereka sangat serius ketika sedang membuat rencana karena keinginan mereka utuk menang sangat besar. Disamping itu, mereka menginginkan Grassland damai dan tenang.
Beberapa jam kemudian...
” Oh! Jika kita mempunyai juru strategi, masalah kita dapat terpecahkan!” Tir memegang keningnya.
” Hugo dan Chris sedang berada di Harmonia dan akan kembali tiga hari kemudian,” tiba-tiba seorang pelayan muncul memberitahukan berita yang baru saja dia dengar dari salah satu tentara yang baru saja kembali dari Vinay del Zexay. ” APA??!!! Lalu berita apalagi yang kau dengar?” Lucia terkejut mendengar berita tersebut. Pelayan itu memberitahukan bahwa ia sudah menitipkan pesan untuk Hugo dan Chris agar mereka cepat kembali.
Setelah mendengar berita itu, Lucia menyuruh pelayannya untuk kembali bekerja. Ia menutup matanya karena ia sangat pusing dengan masalah yang runyam ini. Ia terduduk lemas, Cleo menyuruhnya untuk sedikit santai dan memberikannya minum.
Lucia menghabiskan minumannya, ia berkata ” Aku sekarang sangat membutuhkan bantuan dari putraku dan Chris. Tapi sekarang mereka sedang berada di Harmonia, apa yang mereka lakukan di sana?”. Gremio menepuk pundak Lucia untuk tidak menyerah. Yang dibalas dengan senyuman lemas oleh Lucia.
Sebelum matahari terbenam dan langit berubah menjadi gelap, seorang tentara memberitahukan bahwa posisi para bandit sedang berada di Plain of Armur. ” Bagus, saat yang tepat untuk kembali bertempur melawan mereka!” Jimba bangkit dari duduknya dan menghunuskan pedangnya dengan semangat ” Semua siap?!”. ” Kapan pun kami siap!!!!” jawab mereka penuh semangat. ” Ingat formasi yang tadi kita buat, jangan sampai kita gagal yang hasilnya akan berakibat fatal! Kita harus melindungi Karaya Villge!!!” ujar Gremio berapi-api. ” Ayolah, jangan membuang waktu lagi!” seru Riou yang tak kalah semangat.
Sabtu, 14 Maret 2009
Rabu, 18 Februari 2009
Gensou Suikoden: Heroes Come Back Again vol. 1 chap. 2
Chapter 2
Malam di Karaya Village sangat tenang, bulan bersinar terang dengan tiupan angin. Lolongan para serigala di Plain of Armur terdengar sayup-sayup, terkadang terdengar jelas. Orang-orang Karaya dan para tamu mereka tertidur pulas, kecuali para penjaga. Para penjaga sedang berpatroli untuk ketenangan malam di desa itu.
Di kamar wanita, Cleo dan Nanami tidurnya tenang hingga Nanami mendengar sesuatu. ”Tolong! Siapa pun tolong aku!” Nanami tersentak dari tidurnya, ia mencoba untuk mendengar kembali siapa tahu suara tadi hanya berasal dari mimpinya, suara tadi terdengar kembali. Nanami membangunkan Cleo. ”Cleo.. Cleo.. bangunlah!” Bisik Nanami. ”Erh.. mh.. ada apa Nanami?” Jawabnya berbisik juga. ”Tidakkah kau menengar seseorang meminta tolong?” Bisik Nanami. Mereka berdua mencoba mendengarkan lebih teliti. ”TOLOOONNNGG!!!!” Teriak seseorang. ”Ayo kita bangunkan para pria dan kita lihat apa yang terjadi!” Cleo segera menarik Nanami.
Di depan pintu kamar... ”Cleo? Nanami?” Gremio agak terkejut. ”Kami mendengarkan seseorang meminta tolong,” Cleo langsung menjelaskan. ”Kami juga mendengarnya. Orang itu berlari ke arah rumah Lucia, ayo!” Riou bergegas lebih dulu.
Setelah agak dekat rumah Lucia, terjadilah ribut-ribut... ”Katakan padaku, apa yang terjadi?!” Suara Lucia agak meninggi. Belum sempat menjawab, penjaga itu pingsan. ”Ada apa Lucia?” Jowy heran melihat penjaga itu pingsan. ”Entahlah, dia belum mengatakan apapun,” Lucia agak kesal. Datanglah seorang penjaga lagi dengan lari terbirit-birit. ”Nyonya Lucia! Nyonya Lucia! TOLONG!!”
”Ada apa ini?! Kau meminta tolong, dan temanmu juga sampai-sampai ia pingsan! Apa yang terjadi?! Aku tidak mengerti!!” Lucia MULAI KESAL. Penjaga tersebut menjelaskan bahwa ia melihat hantu. Lucia tidak percaya, baginya itu hanya omong kosong dan jelas-jelas mereka telah mengganggu ketenangan para penduduk. Penjaga itu bersikeras, ia menjelaskan sekali lagi bahwa hantu yang ia lihat adalah Jimba. ”J..Jimba.. hidup.. kembali!!” Penjaga itu menegaskan. ”Tidak mungkin! Dia telah tewas.. dan.. dan..” Lucia sesaat terdiam, ia melihat sesuatu hal yang tidak mungkin baginya dan langsung berteriak. ”AAAAARRRRGGGGHHH!!!! TIDAK MUNGKIN!!!” Lucia pun pingsan. ”Lucia?!” Mereka terkejut. ”Riou! Tir! Bawa Lucia ke dalam rumah! Dan kau, bawa temanmu kembali ke rumahnya!” Perintah Cleo.
Gremio menghampiri orang yang ditakuti oleh kedua penjaga dan Lucia. ”Apa kau yang dimaksud mereka? Maksudku, apa kau orang yang bernama Jimba?” Gremio agak setengah takut. ”Iya kau benar. Aku tidak ingin menakuti yang lainnya, mari kita selesaikan masalah ini di dalam saja,” ajak Jimba.
Sepuluh menit kemudian, Lucia telah sadar. ”Apa kau baik-baik saja Lucia?” Nanami membantu Lucia bangun. ’Hah! Nanami, katakan padaku kalau kejadian yang tadi itu tidak nyata. Aku melihat sahabatku, Jimba, hidup kembali dan..” Lucia begitu panik. ”Maafkan aku Lucia, tetapi kenyataannya aku hidup kembali,” suara Jimba membuat Lucia merinding.
”T..tapi bagaimana mungkin?! Kau tewas di Sindar Ruin!” Kepanikan Lucia semakin bertambah. ”Bisakah aku menjelaskan semuanya?” Pinta Jimba. ”Kau dapat menjelaskan semuanya agar masalah ini selesai,” jawab Riou. Semua terdiam selama beberapa menit dan mereka menginginkan Lucia tenang terlebih dahulu. Akhirnya Lucia siap untuk mendengarkan penjelasan Jimba.
Awalnya Jimba juga tidak mengerti mengapa ia hidup kembali sampai ada sesorang yang menceritakan bahwa belum lama ini keanehan di dunia terjadi seperti berkurangnya umur semua orang, beberapa yag mati hidup kembali seperti Jimba. Malapetaka akan kembali lagi. Gremio menanyakan mengapa Jimba tewas. Jimba tewas dikarenakan karena ia ingin menyelamatkan True Water Rune dari tangan Masked Bishop di Sindar Ruin. Jimba adalah pemegang True Water Rune 52 tahun yang lalu.
Maskud Masked Bishop ingin merebut True Water Rune dari Jimba adalah, ia ingin menghancurkan dunia dengan cara mengumpulkan lima elemen dari True Runes. Alasan mengapa Masked Bishop ingin menghancurkan True Runes dan dunia ini adalah ia terlalu benci dengan kehidupannya. Ia begitu menderita karena ia immortal. Setiap peperangan yang ia alami, selalu saja berhubungan dengan True Runes.
”Sebenarnya, siapa sebenarnya Masked Bishop ?” Cleo penasaran. ”Masked Bishop adalah Luc, pemegang True Wind Rune,” jawab Lucia. Semua terkejut, mereka tidak percaya apa yang dikatakan Lucia. ”Luc?! Luc yang pernah bergabung dengan kami saat di Allied Army itu? Aku tidak percaya! Bagaimana mungkin?” Nanami berharap mereka hanya membual, tapi tidak. ”Yang aku tahu hanya... Luc bekerja sama dengan Yuber, Albert Silverberg dan Sarah. Mereka telah melakukan coup d’etat terhadap Bishop Sasarai, ” kemudian Lucia meminum air yang tadi diberikan oleh Cleo.
”Yuber?!” Seru Jowy dan Tir bersamaan. Tir menggeram dan mukanya sangat marah, ”aku ingat saat Yuber, Windy dan Neclord membakar Village of The Hiden untuk mencuri Soul Eater Rune dari kakek Ted, dan berusaha untuk memburu Ted. Mereka akhirnya gagal, karena Ted telah memindahkan True Rune ini kepadaku... dan mereka membunuhnya!!” Tir hampir menggebrak meja, tapi ditahan oleh Gremio. ”Tuan Muda Tir, tolong.. jangan ingat kejadian itu lagi,” pinta Gremio.
”Lucia, apa kau ingat saat kita membayarnya utnuk merebut Greenhill City dan mengalahkan pasukan Allied Army?” Tanya Jowy. ”Ya, aku ingat. Tapi dia melarikan diri sebelum Highland kalah telak,” jawab Lucia.
Riou berpikir, bagaimana mungkin semua 27 True Runes dapat dihancurkan tanpa induk rune? Induk Rune dari semua 27 True Runes adalah Rune of Beginning yang terpisah menjadi Bright Shield Rune yang dipegang oleh Riou dan Black Sword Rune yang dipegang oleh Jowy. Bagaimana mungkin 27 True Runes hancur karena lima elemen True Runes yang bukan induk 27 True Runes, apa masih ada kaitannya? Kalau ia berkesempatan untuk bertemu dengan Lady Leknaat, akan ia tanyakan hal itu.
”Lalu, siapa pemegang True Water Rune yang sekarang?” Jowy sedikit penasaran. Jimba menjawab bahwa pemegang True Water Rune yang sekarang adalah anak perempuannya, Chris Lightfellow. Mereka berpikir kembali, kalaupun Jimba hidup kembali, apakah musuh-musuh yang dulu pernah mereka hadapi lalu yang telah mati... akan bangkit kembali? Mimpi yang buruk akan membawa mereka kembali. Masa-masa yang tenang, kini akan menjadi masa-masa yang kacau. Sepertinya waktu akan terulang kembali.
Nanami sudah tertidur dipundak Jowy. Mereka semua berpamitan untuk kembali ke penginapan. Malam sudah terlalu larut.. mungkin sebentar lagi pagi akan menjelang.
Pagi telah datang, burung-burung berkicauan. Udaranya menyegarkan, kabut malam telah menghilang dan berubah menjadi embun di daun-daun. Matahari bersinar terang, Nanami masih tidur hingga sinar matahari mengenai wajahnya, ia pun terbangun. Ia melihat Cleo sudah tidak berada di tempat tidur. Ia keluar dari kamar, penjaga penginapan bahwa mereka sedang sarapan bersama orang-orang.
Ketika Nanami keluar dari penginapan... ”Hei lihat, Nanami kesiangan!” Seru Jowy. ”Jowy jangan mulai, aku terlalu capek! Aku akan mencuci muka lalu bergabung dengan kalian . Lihat Jowy, kau makan sangat berantakan!” Nanami memberikan senyuman ejekan lalu pergi. ”Heh, sausnya ada di pipi kanan dan di dagu,” Riou menunjukan dengan tidak menyentuh pipi kanan dan dagu Jowy. ”Kau makan seperti bayi lima bulan!” Ejek Tir lalu tertawa hingga Tir tersedak. ”Oh sialan! Rasakan itu Tir!” Geram Jowy.
Selesai bersarapan... ”Yeah... sarapan yang menyenangkan walaupun aku tadi sedikit tersedak,” kata Tir yang kemudian meminum secangkir kopi. Nanami hendak berbicara sambil makan, tetapi Riou melarangnya. Riou menyuruh agar Nanami menelan makanan terlebih dahulu. Lalu Nanami menelan dagingnya.
”Riou... mengapa Luc bertindak seperti itu? Mengapa ia mempunyai niat untuk menghancurkan lima True Runes? Mengapa ia membenci kehidupan immortalnya? Kalian bertiga tidak terlihat seperti itu?” Nanami memndang Riou dalam-dalam. Sesaat Riou terdiam, kemudian ia menjawab, ”aku tidak tahu mengenai hal itu. Kejadian seperti 17 tahun yang lalu, saat Jowy yang bersahabat dengan kita tiba-tiba menjadi musuh kita.” ”Hei, aku yang seperti sekarang tidak seperti itu!” Jowy agak tersinggung. ”Aku hanya mengumpamakan Luc seperti kejadianmu, Jowy! Jangan diambil hati donk!” Riou memutar bola matanya.
Jowy menambahi penjelasan Riou. Ia sangat mengerti apa yang Luc rasakan, tetapi situasi dan kondisinya berbeda. Luc membenci kehidupan immortalnya, sehingga ia berambisi untuk menghancurkan True Runes serta kehidupan di dunia. Sedangkan Jowy mengagumi Luca Blight dan berambisi untuk mewujudkan impian Highland serta menjadi Raja walaupun bayarannya adalah ia harus meninggalkan sahabat-sahabatnya yang dari kecil. Persamaannya adalah dari kata ambisi, ya.. keduanya sama-sama berambisi untuk mencapai sesuatu walaupun harus kehilanhan nyawa, yang terpenting ambisi itu terlaksana dengan sempurna. Tapi seringkali ambisi yang berlebihan selalu berakhir dengan tragis, mereka dikalahkan oleh penetang ambisi mereka.
”Nanami, kau bilang kami tidak benci menjadi immortal, bukan? Kalau saja kau tahu.. kami juga sama dengan Luc.. sangat benci dan menderita. Kami hidup di bawah kutukan True Runes, tidak ada seorang pun yang menginginkan kehidupan ini. Kami ingin sekali hidup layaknya manusia normal, tidak dengan beban penderitaan yang diberikan True Runes kepada kami...” wajah Tir memelas. ”Kami berjuang menjalani takdir ini sebagai orang normal, walaupun kenyataannya tidak demikian. Suatu hari, jika kami sudah lelah dengan takdir ini dan umur kami sudah cukup untuk mati.. kami akan melepaskan True Rune ini... dan mati normal..” Riou menambahi dengan senyum yang kecut.
Nanami tercengang melihat Riou, Tir dan Jowy. Seberapa besar sebenarnya penderitaan mereka. Seberapa besar kemampuan mereka menutupi rasa penderitaan itu. Mereka terlalu hebat.. untuk menjalani takdir yang bisa dibilang kejam. Tiba-tiba mata Nanami berlinang, cepat-cepat Nanami menghapusnya agar yang lain tidak melihat, tetapi Gremio melihatnya, jadi ia pura-pura tidak melihat saja.
Di rumah Lucia, Jimba sedang minum secangkir kopi, ia melihat ke arah luar sambil tersenyum. ”Aku dapat merasakan Karaya baru setelah dibangun kembali karena dibakar dua tahun yang lalu,” mata Jimba belum beralih dari pandangan di luar sana. ”Kemudian putraku menjadi kepala desa ini,” Lucia mengaduk-aduk kopinya. ”Oh ya, aku tidak melihat Hugo. Dimana dia?” Jimba baru sadar kalu Hugo belum menampakkan batang hidungnya.
Tiba-tiba Lucia tertawa. Jimba memandang Lucia dengan pandangan yang baneh. Kemudian Jimba menanyakan ada apa, tetapi Lucia tetap tertawa. Akhirya Lucia menjelaskan semuanya.
Hugo dan Chris telah menikah setengah tahun yang lalu. Mereka berdua memutuskan utnuk tidak memiliki anak terlebih dahulu. Kini mereka sedang berada di Vinay del Zexay dan akan kembali secepatnya. Jimba sangat senang mendengarnya karena Chris mendapat suami yang baik. Jimba sangat mempercayai Hugo.
”Jika Chris melihat dirimu hidup kembali, dia pasti akan terkejut dan menangis. Kau tahu, saat ia berumur lima tahun, dia selalu mencari dan menunggumu untuk kembali pulang ke rumah. Setelah dia beranjak remaja, ia selalu mencarimu. Setelah dia menemukanmu, kau tewas... dan meniggalkannya lagi,” Lucia mengingatkan hal pahit yang dirasakan Chris kepada Jimba. Lucia menambahi, ”Jika ia tahu kau hidup kembali, pastinya ia akan menghabiskan waktunya hanya untuk bersamamu.”
”Ya, kau benar! Walaupun ia kuat dan tegar, ia selalu merindukan akan kasih sayang orang tua. Ini semua kesalahanku.. aku meninggalkannya tanpa mengucapkan selamat tinggal.. atau aku akan pulang. Kasihan Chris...” Jimba sangat menyesal. ”Ini akan baik-baik saja, hey temanku! Ini belum terlambat. Kau bisa bilang ’lihat, aku kembali! Datanglah kepada ayahmu ini’ benar? Dia tidak akan mungkin membencimu, Jimba,” hibur Lucia. ”Haha.. kau benar Lucia! Mengapa aku harus berpikiran yang bodoh? Terima kasih, Lucia!” Jimba merasa lega hatinya.
xxx
Setelah Tir, Riou, Jowy dan Gremio selesai mandi, Cleo mengajak mereka untuk jalan-jalan keluar dari Karaya, lebih tepatnya berbelanja ke Duck Village. ”Kalian tahu, kita tidak mempunyai uang cukup utnuk berbelanja!” Protes Tir. ”Oh, ayolah Tuan Muda Tir! Kami memiliki persedian uang untuk berbelanja. Ayolah!’ Ajak Cleo. ”Aku tidak mau, pria yang disana mengajak kami untuk balapan kuda bersama Riou, benar?” Tir memegang pundak Riou. Riou mengangguk setuju, ”itu benar. Maafkan kami teman!” Kemudian Riou dan Tir pergi sambil melambaikan tangan.
”Aku ikut berbelanja dengan kalian,” kata Jowy dari belakang. ”Oh Jowy, kau sangat baik! Aku cinta padamuuuu!!!” Nanami memeluk Jowy erat-erat. ”Kau ikut, Gremio?” Jowy menoleh ke arah Gremio. ”Tidak, aku ingin melihat balapan kuda. Kalian bersenang-senganglah! Kapan kalian akan pulang?” Tanya Gremio. ”Tepatnya sebelum makan malam tiba,” Cleo meyakinkan Gremio. ”Jangan terlambat! Kami akan menunggu kalian!” Sahut Riou dari jauh. ”Hey, bagaimana Riou bisa mendengar sejauh itu? Apa ia memiliki pendengaran yang super?” Nanami heran, ia mengerutkan dahinya. Kemudian mereka melambaikan tangan kepada Gremio.
Mereka berpamitan terlebih dahulu kepada para penjaga. ”Berhati-hatilah, di Plain of Armur North banyak monster-monster walaupun ukuran mereka kecil,” Penjaga yang di sebelah kiri mengingatkan mereka. ”Tapi, ada rumor mengatakan bahwa sewaktu-waktu para bandit akan datang. Mereka akan mengambil semua barang-barangmu dan menghajar kalian, hingga kalian tak berdaya lagi,” Penjaga yang di sebelah kanan menambahi. ”Itu rumor, benar? Tidak masalah, kami dapat mengatasinya. Jangan percaya omongan burung jika tidak ada buktinya,’ Jowy meyakinkan.
”Ya, tapi apapun yang terjadi kalian harus berwaspada!” Sekali lagi penjaga itu mengingatkan. ”Terima kasih telah memperingatkan kami sebelumnya,” Cleo tersenyum. Mereka pun pergi.
Sesampainya di Duck Village, mereka di sambut oleh para penjaga. Mereka pergi ke penginapan untuk makan siang. Setelah itu, mereka berbelanja. Mereka akan menyebar. Apabila salah satu diantara mereka telah selesai berbelanja, mereka harus menunggu yang lainnya di tempat tukang lottere.
Sore pun telah tiba. Yang selesai belanja pertama adalah Jowy. Jowy iseng-iseng ikut undian lottere. Keberentungan sedang berpihak padanya, ia menang. Jowy mendapatkan hadih ke dua. Cleo akhirnya datang, ”dimana Nanami?” Cleo melihat Nanami tidak sedang bersama Jowy. ”Aku di sini!!” Seru Nanami, ia berlari menghampiri mereka. ”Ingin pulang sekarang?” Jowy telah bersiap-siap. ”Ya, hari hampir petang. Aku tidak ingin membuat yang lainnya khawatir,” kata Cleo.
Malam di Karaya Village sangat tenang, bulan bersinar terang dengan tiupan angin. Lolongan para serigala di Plain of Armur terdengar sayup-sayup, terkadang terdengar jelas. Orang-orang Karaya dan para tamu mereka tertidur pulas, kecuali para penjaga. Para penjaga sedang berpatroli untuk ketenangan malam di desa itu.
Di kamar wanita, Cleo dan Nanami tidurnya tenang hingga Nanami mendengar sesuatu. ”Tolong! Siapa pun tolong aku!” Nanami tersentak dari tidurnya, ia mencoba untuk mendengar kembali siapa tahu suara tadi hanya berasal dari mimpinya, suara tadi terdengar kembali. Nanami membangunkan Cleo. ”Cleo.. Cleo.. bangunlah!” Bisik Nanami. ”Erh.. mh.. ada apa Nanami?” Jawabnya berbisik juga. ”Tidakkah kau menengar seseorang meminta tolong?” Bisik Nanami. Mereka berdua mencoba mendengarkan lebih teliti. ”TOLOOONNNGG!!!!” Teriak seseorang. ”Ayo kita bangunkan para pria dan kita lihat apa yang terjadi!” Cleo segera menarik Nanami.
Di depan pintu kamar... ”Cleo? Nanami?” Gremio agak terkejut. ”Kami mendengarkan seseorang meminta tolong,” Cleo langsung menjelaskan. ”Kami juga mendengarnya. Orang itu berlari ke arah rumah Lucia, ayo!” Riou bergegas lebih dulu.
Setelah agak dekat rumah Lucia, terjadilah ribut-ribut... ”Katakan padaku, apa yang terjadi?!” Suara Lucia agak meninggi. Belum sempat menjawab, penjaga itu pingsan. ”Ada apa Lucia?” Jowy heran melihat penjaga itu pingsan. ”Entahlah, dia belum mengatakan apapun,” Lucia agak kesal. Datanglah seorang penjaga lagi dengan lari terbirit-birit. ”Nyonya Lucia! Nyonya Lucia! TOLONG!!”
”Ada apa ini?! Kau meminta tolong, dan temanmu juga sampai-sampai ia pingsan! Apa yang terjadi?! Aku tidak mengerti!!” Lucia MULAI KESAL. Penjaga tersebut menjelaskan bahwa ia melihat hantu. Lucia tidak percaya, baginya itu hanya omong kosong dan jelas-jelas mereka telah mengganggu ketenangan para penduduk. Penjaga itu bersikeras, ia menjelaskan sekali lagi bahwa hantu yang ia lihat adalah Jimba. ”J..Jimba.. hidup.. kembali!!” Penjaga itu menegaskan. ”Tidak mungkin! Dia telah tewas.. dan.. dan..” Lucia sesaat terdiam, ia melihat sesuatu hal yang tidak mungkin baginya dan langsung berteriak. ”AAAAARRRRGGGGHHH!!!! TIDAK MUNGKIN!!!” Lucia pun pingsan. ”Lucia?!” Mereka terkejut. ”Riou! Tir! Bawa Lucia ke dalam rumah! Dan kau, bawa temanmu kembali ke rumahnya!” Perintah Cleo.
Gremio menghampiri orang yang ditakuti oleh kedua penjaga dan Lucia. ”Apa kau yang dimaksud mereka? Maksudku, apa kau orang yang bernama Jimba?” Gremio agak setengah takut. ”Iya kau benar. Aku tidak ingin menakuti yang lainnya, mari kita selesaikan masalah ini di dalam saja,” ajak Jimba.
Sepuluh menit kemudian, Lucia telah sadar. ”Apa kau baik-baik saja Lucia?” Nanami membantu Lucia bangun. ’Hah! Nanami, katakan padaku kalau kejadian yang tadi itu tidak nyata. Aku melihat sahabatku, Jimba, hidup kembali dan..” Lucia begitu panik. ”Maafkan aku Lucia, tetapi kenyataannya aku hidup kembali,” suara Jimba membuat Lucia merinding.
”T..tapi bagaimana mungkin?! Kau tewas di Sindar Ruin!” Kepanikan Lucia semakin bertambah. ”Bisakah aku menjelaskan semuanya?” Pinta Jimba. ”Kau dapat menjelaskan semuanya agar masalah ini selesai,” jawab Riou. Semua terdiam selama beberapa menit dan mereka menginginkan Lucia tenang terlebih dahulu. Akhirnya Lucia siap untuk mendengarkan penjelasan Jimba.
Awalnya Jimba juga tidak mengerti mengapa ia hidup kembali sampai ada sesorang yang menceritakan bahwa belum lama ini keanehan di dunia terjadi seperti berkurangnya umur semua orang, beberapa yag mati hidup kembali seperti Jimba. Malapetaka akan kembali lagi. Gremio menanyakan mengapa Jimba tewas. Jimba tewas dikarenakan karena ia ingin menyelamatkan True Water Rune dari tangan Masked Bishop di Sindar Ruin. Jimba adalah pemegang True Water Rune 52 tahun yang lalu.
Maskud Masked Bishop ingin merebut True Water Rune dari Jimba adalah, ia ingin menghancurkan dunia dengan cara mengumpulkan lima elemen dari True Runes. Alasan mengapa Masked Bishop ingin menghancurkan True Runes dan dunia ini adalah ia terlalu benci dengan kehidupannya. Ia begitu menderita karena ia immortal. Setiap peperangan yang ia alami, selalu saja berhubungan dengan True Runes.
”Sebenarnya, siapa sebenarnya Masked Bishop ?” Cleo penasaran. ”Masked Bishop adalah Luc, pemegang True Wind Rune,” jawab Lucia. Semua terkejut, mereka tidak percaya apa yang dikatakan Lucia. ”Luc?! Luc yang pernah bergabung dengan kami saat di Allied Army itu? Aku tidak percaya! Bagaimana mungkin?” Nanami berharap mereka hanya membual, tapi tidak. ”Yang aku tahu hanya... Luc bekerja sama dengan Yuber, Albert Silverberg dan Sarah. Mereka telah melakukan coup d’etat terhadap Bishop Sasarai, ” kemudian Lucia meminum air yang tadi diberikan oleh Cleo.
”Yuber?!” Seru Jowy dan Tir bersamaan. Tir menggeram dan mukanya sangat marah, ”aku ingat saat Yuber, Windy dan Neclord membakar Village of The Hiden untuk mencuri Soul Eater Rune dari kakek Ted, dan berusaha untuk memburu Ted. Mereka akhirnya gagal, karena Ted telah memindahkan True Rune ini kepadaku... dan mereka membunuhnya!!” Tir hampir menggebrak meja, tapi ditahan oleh Gremio. ”Tuan Muda Tir, tolong.. jangan ingat kejadian itu lagi,” pinta Gremio.
”Lucia, apa kau ingat saat kita membayarnya utnuk merebut Greenhill City dan mengalahkan pasukan Allied Army?” Tanya Jowy. ”Ya, aku ingat. Tapi dia melarikan diri sebelum Highland kalah telak,” jawab Lucia.
Riou berpikir, bagaimana mungkin semua 27 True Runes dapat dihancurkan tanpa induk rune? Induk Rune dari semua 27 True Runes adalah Rune of Beginning yang terpisah menjadi Bright Shield Rune yang dipegang oleh Riou dan Black Sword Rune yang dipegang oleh Jowy. Bagaimana mungkin 27 True Runes hancur karena lima elemen True Runes yang bukan induk 27 True Runes, apa masih ada kaitannya? Kalau ia berkesempatan untuk bertemu dengan Lady Leknaat, akan ia tanyakan hal itu.
”Lalu, siapa pemegang True Water Rune yang sekarang?” Jowy sedikit penasaran. Jimba menjawab bahwa pemegang True Water Rune yang sekarang adalah anak perempuannya, Chris Lightfellow. Mereka berpikir kembali, kalaupun Jimba hidup kembali, apakah musuh-musuh yang dulu pernah mereka hadapi lalu yang telah mati... akan bangkit kembali? Mimpi yang buruk akan membawa mereka kembali. Masa-masa yang tenang, kini akan menjadi masa-masa yang kacau. Sepertinya waktu akan terulang kembali.
Nanami sudah tertidur dipundak Jowy. Mereka semua berpamitan untuk kembali ke penginapan. Malam sudah terlalu larut.. mungkin sebentar lagi pagi akan menjelang.
Pagi telah datang, burung-burung berkicauan. Udaranya menyegarkan, kabut malam telah menghilang dan berubah menjadi embun di daun-daun. Matahari bersinar terang, Nanami masih tidur hingga sinar matahari mengenai wajahnya, ia pun terbangun. Ia melihat Cleo sudah tidak berada di tempat tidur. Ia keluar dari kamar, penjaga penginapan bahwa mereka sedang sarapan bersama orang-orang.
Ketika Nanami keluar dari penginapan... ”Hei lihat, Nanami kesiangan!” Seru Jowy. ”Jowy jangan mulai, aku terlalu capek! Aku akan mencuci muka lalu bergabung dengan kalian . Lihat Jowy, kau makan sangat berantakan!” Nanami memberikan senyuman ejekan lalu pergi. ”Heh, sausnya ada di pipi kanan dan di dagu,” Riou menunjukan dengan tidak menyentuh pipi kanan dan dagu Jowy. ”Kau makan seperti bayi lima bulan!” Ejek Tir lalu tertawa hingga Tir tersedak. ”Oh sialan! Rasakan itu Tir!” Geram Jowy.
Selesai bersarapan... ”Yeah... sarapan yang menyenangkan walaupun aku tadi sedikit tersedak,” kata Tir yang kemudian meminum secangkir kopi. Nanami hendak berbicara sambil makan, tetapi Riou melarangnya. Riou menyuruh agar Nanami menelan makanan terlebih dahulu. Lalu Nanami menelan dagingnya.
”Riou... mengapa Luc bertindak seperti itu? Mengapa ia mempunyai niat untuk menghancurkan lima True Runes? Mengapa ia membenci kehidupan immortalnya? Kalian bertiga tidak terlihat seperti itu?” Nanami memndang Riou dalam-dalam. Sesaat Riou terdiam, kemudian ia menjawab, ”aku tidak tahu mengenai hal itu. Kejadian seperti 17 tahun yang lalu, saat Jowy yang bersahabat dengan kita tiba-tiba menjadi musuh kita.” ”Hei, aku yang seperti sekarang tidak seperti itu!” Jowy agak tersinggung. ”Aku hanya mengumpamakan Luc seperti kejadianmu, Jowy! Jangan diambil hati donk!” Riou memutar bola matanya.
Jowy menambahi penjelasan Riou. Ia sangat mengerti apa yang Luc rasakan, tetapi situasi dan kondisinya berbeda. Luc membenci kehidupan immortalnya, sehingga ia berambisi untuk menghancurkan True Runes serta kehidupan di dunia. Sedangkan Jowy mengagumi Luca Blight dan berambisi untuk mewujudkan impian Highland serta menjadi Raja walaupun bayarannya adalah ia harus meninggalkan sahabat-sahabatnya yang dari kecil. Persamaannya adalah dari kata ambisi, ya.. keduanya sama-sama berambisi untuk mencapai sesuatu walaupun harus kehilanhan nyawa, yang terpenting ambisi itu terlaksana dengan sempurna. Tapi seringkali ambisi yang berlebihan selalu berakhir dengan tragis, mereka dikalahkan oleh penetang ambisi mereka.
”Nanami, kau bilang kami tidak benci menjadi immortal, bukan? Kalau saja kau tahu.. kami juga sama dengan Luc.. sangat benci dan menderita. Kami hidup di bawah kutukan True Runes, tidak ada seorang pun yang menginginkan kehidupan ini. Kami ingin sekali hidup layaknya manusia normal, tidak dengan beban penderitaan yang diberikan True Runes kepada kami...” wajah Tir memelas. ”Kami berjuang menjalani takdir ini sebagai orang normal, walaupun kenyataannya tidak demikian. Suatu hari, jika kami sudah lelah dengan takdir ini dan umur kami sudah cukup untuk mati.. kami akan melepaskan True Rune ini... dan mati normal..” Riou menambahi dengan senyum yang kecut.
Nanami tercengang melihat Riou, Tir dan Jowy. Seberapa besar sebenarnya penderitaan mereka. Seberapa besar kemampuan mereka menutupi rasa penderitaan itu. Mereka terlalu hebat.. untuk menjalani takdir yang bisa dibilang kejam. Tiba-tiba mata Nanami berlinang, cepat-cepat Nanami menghapusnya agar yang lain tidak melihat, tetapi Gremio melihatnya, jadi ia pura-pura tidak melihat saja.
Di rumah Lucia, Jimba sedang minum secangkir kopi, ia melihat ke arah luar sambil tersenyum. ”Aku dapat merasakan Karaya baru setelah dibangun kembali karena dibakar dua tahun yang lalu,” mata Jimba belum beralih dari pandangan di luar sana. ”Kemudian putraku menjadi kepala desa ini,” Lucia mengaduk-aduk kopinya. ”Oh ya, aku tidak melihat Hugo. Dimana dia?” Jimba baru sadar kalu Hugo belum menampakkan batang hidungnya.
Tiba-tiba Lucia tertawa. Jimba memandang Lucia dengan pandangan yang baneh. Kemudian Jimba menanyakan ada apa, tetapi Lucia tetap tertawa. Akhirya Lucia menjelaskan semuanya.
Hugo dan Chris telah menikah setengah tahun yang lalu. Mereka berdua memutuskan utnuk tidak memiliki anak terlebih dahulu. Kini mereka sedang berada di Vinay del Zexay dan akan kembali secepatnya. Jimba sangat senang mendengarnya karena Chris mendapat suami yang baik. Jimba sangat mempercayai Hugo.
”Jika Chris melihat dirimu hidup kembali, dia pasti akan terkejut dan menangis. Kau tahu, saat ia berumur lima tahun, dia selalu mencari dan menunggumu untuk kembali pulang ke rumah. Setelah dia beranjak remaja, ia selalu mencarimu. Setelah dia menemukanmu, kau tewas... dan meniggalkannya lagi,” Lucia mengingatkan hal pahit yang dirasakan Chris kepada Jimba. Lucia menambahi, ”Jika ia tahu kau hidup kembali, pastinya ia akan menghabiskan waktunya hanya untuk bersamamu.”
”Ya, kau benar! Walaupun ia kuat dan tegar, ia selalu merindukan akan kasih sayang orang tua. Ini semua kesalahanku.. aku meninggalkannya tanpa mengucapkan selamat tinggal.. atau aku akan pulang. Kasihan Chris...” Jimba sangat menyesal. ”Ini akan baik-baik saja, hey temanku! Ini belum terlambat. Kau bisa bilang ’lihat, aku kembali! Datanglah kepada ayahmu ini’ benar? Dia tidak akan mungkin membencimu, Jimba,” hibur Lucia. ”Haha.. kau benar Lucia! Mengapa aku harus berpikiran yang bodoh? Terima kasih, Lucia!” Jimba merasa lega hatinya.
xxx
Setelah Tir, Riou, Jowy dan Gremio selesai mandi, Cleo mengajak mereka untuk jalan-jalan keluar dari Karaya, lebih tepatnya berbelanja ke Duck Village. ”Kalian tahu, kita tidak mempunyai uang cukup utnuk berbelanja!” Protes Tir. ”Oh, ayolah Tuan Muda Tir! Kami memiliki persedian uang untuk berbelanja. Ayolah!’ Ajak Cleo. ”Aku tidak mau, pria yang disana mengajak kami untuk balapan kuda bersama Riou, benar?” Tir memegang pundak Riou. Riou mengangguk setuju, ”itu benar. Maafkan kami teman!” Kemudian Riou dan Tir pergi sambil melambaikan tangan.
”Aku ikut berbelanja dengan kalian,” kata Jowy dari belakang. ”Oh Jowy, kau sangat baik! Aku cinta padamuuuu!!!” Nanami memeluk Jowy erat-erat. ”Kau ikut, Gremio?” Jowy menoleh ke arah Gremio. ”Tidak, aku ingin melihat balapan kuda. Kalian bersenang-senganglah! Kapan kalian akan pulang?” Tanya Gremio. ”Tepatnya sebelum makan malam tiba,” Cleo meyakinkan Gremio. ”Jangan terlambat! Kami akan menunggu kalian!” Sahut Riou dari jauh. ”Hey, bagaimana Riou bisa mendengar sejauh itu? Apa ia memiliki pendengaran yang super?” Nanami heran, ia mengerutkan dahinya. Kemudian mereka melambaikan tangan kepada Gremio.
Mereka berpamitan terlebih dahulu kepada para penjaga. ”Berhati-hatilah, di Plain of Armur North banyak monster-monster walaupun ukuran mereka kecil,” Penjaga yang di sebelah kiri mengingatkan mereka. ”Tapi, ada rumor mengatakan bahwa sewaktu-waktu para bandit akan datang. Mereka akan mengambil semua barang-barangmu dan menghajar kalian, hingga kalian tak berdaya lagi,” Penjaga yang di sebelah kanan menambahi. ”Itu rumor, benar? Tidak masalah, kami dapat mengatasinya. Jangan percaya omongan burung jika tidak ada buktinya,’ Jowy meyakinkan.
”Ya, tapi apapun yang terjadi kalian harus berwaspada!” Sekali lagi penjaga itu mengingatkan. ”Terima kasih telah memperingatkan kami sebelumnya,” Cleo tersenyum. Mereka pun pergi.
Sesampainya di Duck Village, mereka di sambut oleh para penjaga. Mereka pergi ke penginapan untuk makan siang. Setelah itu, mereka berbelanja. Mereka akan menyebar. Apabila salah satu diantara mereka telah selesai berbelanja, mereka harus menunggu yang lainnya di tempat tukang lottere.
Sore pun telah tiba. Yang selesai belanja pertama adalah Jowy. Jowy iseng-iseng ikut undian lottere. Keberentungan sedang berpihak padanya, ia menang. Jowy mendapatkan hadih ke dua. Cleo akhirnya datang, ”dimana Nanami?” Cleo melihat Nanami tidak sedang bersama Jowy. ”Aku di sini!!” Seru Nanami, ia berlari menghampiri mereka. ”Ingin pulang sekarang?” Jowy telah bersiap-siap. ”Ya, hari hampir petang. Aku tidak ingin membuat yang lainnya khawatir,” kata Cleo.
Jumat, 03 Oktober 2008
Gensou Suikoden: Heroes Come Back Again vol.1 chap.1
Chapter 1
Sebuah jalan yang disetiap sisi jalannya berdiri pohon-pohon sehingga jalan tersebut teduh tertutupi daun yang lebat. Sepanjang jalan, terdapat sungai yang airnya berkilauan karena cahaya matahari, matahari bersinar terik. Burung-burung berkicau di dahan pohon.
Seorang pria sedang memancing, ia duduk di tempat yang teduh. Ia menggunakan penutup kepala hijau, di sampingnya sebuah ember berisi delapan ekor ikan siap untuk dijadikan makanan siang. ”Tuan muda Tir, apakah kau mendapat tangkapan yang banyak?” seorang pria berambut pirang menghampirinya.
”Tidak Gremio, aku hanya mendapatkan delapan ekor ikan,” mata Tir mengarahkan ke ember di sampingnya. Gremio tertawa kecil, ”untuk apa ikan sebanyak itu? Kita hanya bertiga.” Pancingan Tir bergerak, ia mengangkat pancingannya. Tangkapan terkhirnya cukup besar, ia masukan ke dalam ember. Tir berdiri, ia merenggangkan tangannya. ”Kau benar Gremio. Tapi aku merasakan kita akan kedatangan tamu.”
Tidak jauh dari tempat itu, terlihat dua orang pria dan seorang wanita sedang berjalan. Wanita itu berkata, ”Oh please, kakiku sangat lelah! Mengapa kita tidak beristirahat sejenak?” Lelaki berambut pendek pirang menjawabnya, ”Nanami, kita dapat beristirahat setelah terlihat sungai.” ”Jowy bodoh! Itu sungai! Apa kau tidak bisa melihat, huh?! Riou! Kau tidak berpikir kalau perjalanan kita sangat jauh??!!” Nanami sangat kesal.
Riou tidak mendengar ocehan Nanami. ”Hey, disana ada orang, kita dapat menanyakan Karaya Village kepada mereka!” Seru Riou. Jowy menyipitkan mata, ”ah ya! Mari kita tanyakan kepada mereka!” Mereka berdua lari, Nanami yang sedang mengoceh ditinggalkan begitu saja. Ketika Nanami sadar, ia segera menyusul mereka.
”Permisi, kami ingin menanyakan jalan menuju Karaya Village...” Sebelum Riou menyelesaikan kalimatnya, Tir membalikan badan. Mereka bertatapan, lalu mereka terkejut. ”Riou?!” ”Tir?? Hei apa kabar?” Mereka berpelukan. ”Lama kita tidak berjumpa, ini Jowy,” Riou memperkenalkan Jowy. Mereka berjabat tangan.
Terdengar teriakan Nanami. Setelah berhasil mengejar Riou dan Jowy, Nanami memperhatikan sejenak, kemudian terkejut. ”Apa kabar Nanami? Kau semakin bersemangat saja,” Tir tersenyum. ”Oh McDohl, aku baik-baik saja, terima kasih.”
Seorang wanita berambut coklat menghampiri mereka. ”Tuan Tir, Gremio sudah selesai membuat barbecue.” Dia adalah Cleo, pengikut setia Tir. Mereka makan siang di bawah pepohonan yang rindang, angin siang berhembus sejuk. Mereka bercakap-cakap. Riou menceritakan bahwa mereka baru ke Grassland kurang lebih lima bulan yang lalu. Mereka berencana akan menuju Karaya Village.
Sebenarnya tujuan ke Karaya Village adalah kepentingan Jowy. Ia kini mencoba mengikuti jejak ayah kandungnya sebagai arkeolog. Tetapi Jowy belum memutuskan untuk meneliti seperti halnya puing-puing. Ia tertarik dengan daerah Seven Clan of Grassland. Yang pertama dipilih adalah desa yang melahirkan seorang Flame Champion baru, Karaya Village.
”Tir, kemana tujuanmu setelah ini?” Riou melap mulutnya dengan sapu tangan putih. ”Kami belum memutuskan. Tapi kami ingin pergi ke Harmonia,” Tir membetulkan ikat kepalanya. Jowy kemudian memberikan usul, ”bagaimana kalau kalian bergabung dengan kami? Sangat menyenangkan bila kalian ikut bersama kami. Dan lagipula, itu sangat menguntungkan bagi Nanami karena ada Cleo. Aku pusing sekali kalau Nanami mulai cerewet!” Pendengaran Nanami tajam, ia mencengkram pundak Jowy. Jowy tertawa ketakutan melihat mata Nanami mulai berkilat-kilat.
Cleo menanggapi dengan senang, ”ide yang bagus! Kita dapat mengetahui seperti apa Karaya Village itu. Bila kita pergi sekarang, kita akan sampai di sana besok pagi.” Semua sepakat dengan usul Cleo. Selesai makan, mereka mulai mengemasi barang-barang kemudian pergi
Matahari terbenam, langit-langit senja perlahan memudar. Suara burung gagak meramaikan suasan sore. Udara perlahan-lahan berubah menjadi dingin. Setelah langit menjadi gelap, Riou dan teman-teman tiba di Brass Castle. Benteng kastil yang merupakan tempat perbatasan Grassland – Zexen. Terlihat beberapa ksatria Zexen sedang berpatroli. Riou dan teman-teman memutuskan untuk bermalam di penginapan Zexen. Setelah memesan kamar, mereka beranjak tidur.
Pagi telah tiba, matahari bersinar terang dan cerah disusul dengan kicauan-kicauan burung. Jendela-jendela penginapan mengembun. Nanami telah selesai mandi di bak mandi penginapan, wajahnya memerah karena kedinginan. Ia melihat Cleo turun dari tangga, Cleo menyapa Nanami. ”Selamat pagi, Cleo! Kau akan pergi mandi, bukan? Airnya sangat dingin dan menyegarkan... um... dimana para lelaki?” Nanami masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. ”Oh, mereka masih tidur.. seperti putri tidur.” Mendengar perkataan Cleo, Nanami beranjak ke atas untuk membangunkan para pria.
Saat Nanami membuka pintu kamar, dia melihat gaya tidur yang berantakan disertai dengkuran yang keras. ”Aku tidak bisa berpikir, mengapa semua pria tidur seharian penuh, bahkan sampai tidak bangun!” Nanami menggeram. Satu per satu Nanami memukul para pria sambil berteriak. ”HEY!! Bangun kalian para pemalas!” Pukulan terakhir ditunjukan kepada Jowy. ”Ouch! Lima menit lagi! Oh... aku benci pagi hari, Nanami...” Jowy menarik kembali selimutnya. ”Jangan berkata seperti itu, Jowy! Riou! Riou! Bangun!” Nanami menguncang-guncangkan tubuh Riou.
Riou langsung terbangun, jalannya terhuyung-huyung, kemudian menabrak dinding. Kepalanya pusing sekali, belum lagi ia terjatuh dari tangga. Terdengar pelayan penginapan bersuara khawatir serta menawarkan bantuan kepada Riou. Melihat itu, Tir tertawa terkekeh-kekeh. Gremio menguap lebar-lebar, kemudian meninggalkan kamar.
Nanami menggeleng-gelenkan kepalanya karena perbuatan konyol para lelaki. ”Dasar seperti anak kecil!.... Huuh??...!!! Jowy!!! Ini yang kedua kalinya aku membangunkanmu!! Ayo, pergi mandi!!” Nanami mendorong Jowy, hingga Jowy terjatuh dari tempat tidur. ”Ok, ok, ok! Dasar nenek cerewet!” Cepat-cepat Jowy keluar dari kamar. ”Apa??!!” Seru Nanami.
Akhirnya mereka meninggalkan Brass Castle, perjalanan menuju Karaya Village dilanjutkan kembali. Dari Brass Castle mereka melewati Plain of Armur. Plain of Armur adalah hamparan padang rumput yang luas, di sana terdapat tumpukan-tumpukan batu yang menandakan sebagai makam para pejuang Fire Bringers di masa Fire Bringers First Wars. Tidak lama kemudian sebuah titik dari jauh yang didekati menjadi sebuah perkampungan kecil, ya.. itu adalah Karaya Village.
Dua orang pria sedang berdiri di depan gerbang pintu masuk desa. Jowy menghampiri mereka. ”Kami adalah para peneliti daerah Grassland, kami ingin bertemu dengan kepala desa ini. Bila tidak keberatan, dapatkah kalian menunjukan kami rumah kepala desanya?” Pinta Jowy. Seorang penjaga mengantarkan mereka sampai ke depan pintu rumah kepala desa.
Mereka masuk ke rumah itu. ”Permisi!” Sahut Tir. Seorang wanita berkulit cokelat dan berambut pirang keluar dari bilik pemisah ruangan. ”Oh, tamu kepala desa.. silakan duduk!”
Riou memperhatikan wajah wanita itu, sepertiya ia pernah bertemu dengannya. Ia mencoba untuk mengingat sesuatu. ”Apakah anda Lucia?” Tanya Riou. Wanita itu sejenak memperhatikan Riou. ”Ya benar aku Lucia. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Rasanya kita memang pernah bertemu.” ”Apa kau ingat 17 tahun yang lalu kau berusaha untuk membunuhku di kamarku, Dunan Castle?” Riou mencoba untuk mengingatkan Lucia.
”Ya, aku ingat! Kau Riou, benar? Dan.. dan.. ya Tuhan! Kau Raja Highland, Raja Jowy!” Lucia sangat terkejut. ”Jangan panggil aku seperti itu. Aku bukan seorang Raja lagi,” Jowy tersenyum kecil. Lucia juga terkejut melihat Tir, mantan pemimpin Liberation Army. Tir menjelaskan bahwa sekarang mereka bukan lagi pemimpin yang melegenda, tetapi mereka sekarang adalah para petualang. Lucia melihat mereka belum duduk, akhirnya Lucia mempersilakan mereka duduk.
Lucia memulai pembicaraan, ”lama kita tidak berjumpa, bagaimana kabar kalian?” Riou yang menjawab, ”kami semua baik-baik saja, terima kasih! Kau sendiri, bagaimana kabarmu?” ”Kabarku baik.” Saat mereka datang, kebetulan Hugo, kepala desa Karaya Village sekaligus Flame Champion yang baru, sedang tidak ada di tempat. Dia adalah anak semata wayang Lucia., Saat ini Hugo bersama istrinya, Chris, sedang pergi ke Vinay del Zexay dan akan segera kembali lagi.
Lucia mengusulkan mereka untuk melihat-lihat desanya. Dan jika mereka memerlukan sesuatu, rumah Lucia selalu terbuka untuk mereka.
Mereka berpencar untuk jalan-jalan. Karaya Village memang sangat indah dengan paduan warna coklat, putih, hitam, dan kuning gading. Keasliannya memang terlihat menyegarkan. Grassland terkenal dengan tujuh klan yaitu: Karaya, Lizard, Duck, Chisa, Safir, Alma Kinan, dan Kaana yang dari dulu hingga sekarang bersatu di bawah pimpinan Flame Champion. Sebelumnya, klan Kaan sempat memisahkan diri, tetapi mereka bergabung kembali.
Padang rumput yang terhampar luas, sungai yang mengalir jernih, binatang ternak yang sedang memamah biak. Para wanita yang sedang bekerja sambil berbicara, anak-anak yang sedang berlari-lari atau bermain lompat tali. Para pria yang sedang berlatih pedang di lapangan menunjukan bahwa Karaya tidak pernah sepi dari kegiatan keseharian mereka. Awan-awan di langit begitu tipis sehingga warna biru langit terlihat jelas dan indah.
Gremio dan Cleo sedang berbincang-bincang dengan para penduduk. Gremio dotawari untuk belajar berlatih pedang. Sedangkan Cleo diajari cara menenun kain khas Karaya Village.
Riou dan Tir sedang duduk-duduk di atas batu yang besar. Riou menghirup udara yang segar, ia begitu senang. ”Tir berapa lama kau meninggalkan Gregminster?” ”Entahlah. Mungkin sudah sepuluh tahun dan...” tiba-tiba Tir terdiam. ”Ada apa Tir? Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Riou. ”Oh Riou, tiba-tiba saja aku merindukan Kasumi! Dia selalu mengunjungiku setiap akhir pekan, dan sekarang... aku meninggalkannya,” keluh Tir. ”Apa kau jatuh cinta terhadap Kasumi?” Riou sudah yakin jawaban Tir adalah ’ya’. ”Mungkin ya.. oh Riou! Aku tidak dapat mengutarakan perasaanku, aku ingin sekali mengatakan ’aku cinta padamu Kasumi’ tapi itu sulit sekali!” Curahan hati Tir terdengar cengeng. ”Ah, lupakan saja! Bagaimana denganmu Riou? Apa kau telah menemukan wanita yang tepat untukmu?” Tir penasaran. ”Belum, tapi suatu hari nanti pasti aku akan menemukannya,” Riou tersenyum.
Di tempat lain saat Jowy dan Nanami sedang berdua, seorang pesuruh Lucia mengatakan kepada mereka berdua bahwa makan siang telah siap. Jowy memanggil teman-temannya untuk segera ke rumah Lucia.
Di rumah Lucia, mereka dihidangkan makanan yang banyak, sebagai tradisi menyambut para tamu. Mereka juga disediakan air untuk mandi dengan cahaya matahari sore. Cleo dan Nanami tubuhnya diolesi semacam krim untuk perawatan kulit sebelum mereka mandi. Benar-benar perlakuan yang istimewa.
Selesai mandi, mereka berkumpul di ruang tengah sambil meminum teh hangat. Lucia menanyakan apa tujuan mereka ke Karaya Village. Jowy menjelaskan bahwa ia sedang meneliti daerah-daerah Grassland. ”Maaf kalau aku ikut campur, tetapi apakah kau meneliti tentang fenomena yang misterius seperti badai dan gempa yang tiba-tiba mucul, yang lima menit kemudian disusul hujang bintang itu Jowy? Peristiwa itu sekitar dua bulan yang lalu, apa kalian merasakannya?” Ungkap Cleo.
”Ya, kami merasakannya. Aku melihat hujan bintang jatuh tersebut jatuh melewati Karaya Village. Tapi sepertinya di daerah Plain of Armur tidak ada apa-apa, mungkin di bagian daerah Plain of Armur North jatuhnya,” Jowy menjelaskan. Lucia menceritakan bahwa dua bulan yang lalu setelah gempa berhenti berguncang, Hugo melihat hujan bintang itu jatuh ke arah sekitar utara dari Great Hollow, tapi itu baru pengamatan Hugo.
Selain fenomena yang misterius, keesokan harinya peramal desa Karaya mengatakan bahwa seluruh penduduk desa ini umurnya berkurang. ”Tapi, bagaimana si peramal itu bisa tahu kalau umur mereka semua berkurang?” Gremio setengah tidak percaya. ”Roh angin dan roh tanah yang memberitahu kepada peramal tersebut,” Lucia sangat yakin sekali.
Semua terdiam, yang terdengar hanya tiupan angin. Malam sudah larut, mereka semua permisi kepada Lucia, karena mereka akan tidur di penginapan yang bertepatan di sebelah rumah Lucia.
Di kamar para pria, Gremio bertanya kepada Tir. ”Apa yang ingin kau tanyakan, Gremio?” Tir melepaskan penutup kepalanya. ”Pembicaraan yang tadi, perasaanku mengatakan bahwa kita akan kembali lagi ke dunia perang,” ungkap Gremio. Mereka sejenak terdiam. ”Apa maksudmu, Gremio?” Jowy mengerutkan keningnya. ”Kalau yang tidak mungkin menjadi mungkin, misalkan seperti musuh-musuh kita yang dulu kita hadapi hidup kembali, besar kemungkinan kita mengulang sejarah kita kembali,” Gremio menutup tirai tipis yang berada di sebelah Riou.
Tir menambahi, ”aku berharap, kita tidak akan bergabung kembali ke dalam peperangan untuk yang kedua kalinya! Aku sudah menikmati kehidupan yang normal ini... walaupun Soul Eater Rune masih bersamaku,” Tir memperhatikan tangan kanannya yang dibaluti perban. ”Hey teman! Jika takdir menginginkan begitu, mau tidak mau kita harus menghadapinya!” Riou menyemangati. ”Riou benar! Sudahlah, sekarang kita tidur. Selamat malam semuanya!” Gremio menarik selimutnya. Tidak ada suara lagi. Kini mereka sudah pindah ke alam mimpi.
Sebuah jalan yang disetiap sisi jalannya berdiri pohon-pohon sehingga jalan tersebut teduh tertutupi daun yang lebat. Sepanjang jalan, terdapat sungai yang airnya berkilauan karena cahaya matahari, matahari bersinar terik. Burung-burung berkicau di dahan pohon.
Seorang pria sedang memancing, ia duduk di tempat yang teduh. Ia menggunakan penutup kepala hijau, di sampingnya sebuah ember berisi delapan ekor ikan siap untuk dijadikan makanan siang. ”Tuan muda Tir, apakah kau mendapat tangkapan yang banyak?” seorang pria berambut pirang menghampirinya.
”Tidak Gremio, aku hanya mendapatkan delapan ekor ikan,” mata Tir mengarahkan ke ember di sampingnya. Gremio tertawa kecil, ”untuk apa ikan sebanyak itu? Kita hanya bertiga.” Pancingan Tir bergerak, ia mengangkat pancingannya. Tangkapan terkhirnya cukup besar, ia masukan ke dalam ember. Tir berdiri, ia merenggangkan tangannya. ”Kau benar Gremio. Tapi aku merasakan kita akan kedatangan tamu.”
Tidak jauh dari tempat itu, terlihat dua orang pria dan seorang wanita sedang berjalan. Wanita itu berkata, ”Oh please, kakiku sangat lelah! Mengapa kita tidak beristirahat sejenak?” Lelaki berambut pendek pirang menjawabnya, ”Nanami, kita dapat beristirahat setelah terlihat sungai.” ”Jowy bodoh! Itu sungai! Apa kau tidak bisa melihat, huh?! Riou! Kau tidak berpikir kalau perjalanan kita sangat jauh??!!” Nanami sangat kesal.
Riou tidak mendengar ocehan Nanami. ”Hey, disana ada orang, kita dapat menanyakan Karaya Village kepada mereka!” Seru Riou. Jowy menyipitkan mata, ”ah ya! Mari kita tanyakan kepada mereka!” Mereka berdua lari, Nanami yang sedang mengoceh ditinggalkan begitu saja. Ketika Nanami sadar, ia segera menyusul mereka.
”Permisi, kami ingin menanyakan jalan menuju Karaya Village...” Sebelum Riou menyelesaikan kalimatnya, Tir membalikan badan. Mereka bertatapan, lalu mereka terkejut. ”Riou?!” ”Tir?? Hei apa kabar?” Mereka berpelukan. ”Lama kita tidak berjumpa, ini Jowy,” Riou memperkenalkan Jowy. Mereka berjabat tangan.
Terdengar teriakan Nanami. Setelah berhasil mengejar Riou dan Jowy, Nanami memperhatikan sejenak, kemudian terkejut. ”Apa kabar Nanami? Kau semakin bersemangat saja,” Tir tersenyum. ”Oh McDohl, aku baik-baik saja, terima kasih.”
Seorang wanita berambut coklat menghampiri mereka. ”Tuan Tir, Gremio sudah selesai membuat barbecue.” Dia adalah Cleo, pengikut setia Tir. Mereka makan siang di bawah pepohonan yang rindang, angin siang berhembus sejuk. Mereka bercakap-cakap. Riou menceritakan bahwa mereka baru ke Grassland kurang lebih lima bulan yang lalu. Mereka berencana akan menuju Karaya Village.
Sebenarnya tujuan ke Karaya Village adalah kepentingan Jowy. Ia kini mencoba mengikuti jejak ayah kandungnya sebagai arkeolog. Tetapi Jowy belum memutuskan untuk meneliti seperti halnya puing-puing. Ia tertarik dengan daerah Seven Clan of Grassland. Yang pertama dipilih adalah desa yang melahirkan seorang Flame Champion baru, Karaya Village.
”Tir, kemana tujuanmu setelah ini?” Riou melap mulutnya dengan sapu tangan putih. ”Kami belum memutuskan. Tapi kami ingin pergi ke Harmonia,” Tir membetulkan ikat kepalanya. Jowy kemudian memberikan usul, ”bagaimana kalau kalian bergabung dengan kami? Sangat menyenangkan bila kalian ikut bersama kami. Dan lagipula, itu sangat menguntungkan bagi Nanami karena ada Cleo. Aku pusing sekali kalau Nanami mulai cerewet!” Pendengaran Nanami tajam, ia mencengkram pundak Jowy. Jowy tertawa ketakutan melihat mata Nanami mulai berkilat-kilat.
Cleo menanggapi dengan senang, ”ide yang bagus! Kita dapat mengetahui seperti apa Karaya Village itu. Bila kita pergi sekarang, kita akan sampai di sana besok pagi.” Semua sepakat dengan usul Cleo. Selesai makan, mereka mulai mengemasi barang-barang kemudian pergi
Matahari terbenam, langit-langit senja perlahan memudar. Suara burung gagak meramaikan suasan sore. Udara perlahan-lahan berubah menjadi dingin. Setelah langit menjadi gelap, Riou dan teman-teman tiba di Brass Castle. Benteng kastil yang merupakan tempat perbatasan Grassland – Zexen. Terlihat beberapa ksatria Zexen sedang berpatroli. Riou dan teman-teman memutuskan untuk bermalam di penginapan Zexen. Setelah memesan kamar, mereka beranjak tidur.
Pagi telah tiba, matahari bersinar terang dan cerah disusul dengan kicauan-kicauan burung. Jendela-jendela penginapan mengembun. Nanami telah selesai mandi di bak mandi penginapan, wajahnya memerah karena kedinginan. Ia melihat Cleo turun dari tangga, Cleo menyapa Nanami. ”Selamat pagi, Cleo! Kau akan pergi mandi, bukan? Airnya sangat dingin dan menyegarkan... um... dimana para lelaki?” Nanami masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. ”Oh, mereka masih tidur.. seperti putri tidur.” Mendengar perkataan Cleo, Nanami beranjak ke atas untuk membangunkan para pria.
Saat Nanami membuka pintu kamar, dia melihat gaya tidur yang berantakan disertai dengkuran yang keras. ”Aku tidak bisa berpikir, mengapa semua pria tidur seharian penuh, bahkan sampai tidak bangun!” Nanami menggeram. Satu per satu Nanami memukul para pria sambil berteriak. ”HEY!! Bangun kalian para pemalas!” Pukulan terakhir ditunjukan kepada Jowy. ”Ouch! Lima menit lagi! Oh... aku benci pagi hari, Nanami...” Jowy menarik kembali selimutnya. ”Jangan berkata seperti itu, Jowy! Riou! Riou! Bangun!” Nanami menguncang-guncangkan tubuh Riou.
Riou langsung terbangun, jalannya terhuyung-huyung, kemudian menabrak dinding. Kepalanya pusing sekali, belum lagi ia terjatuh dari tangga. Terdengar pelayan penginapan bersuara khawatir serta menawarkan bantuan kepada Riou. Melihat itu, Tir tertawa terkekeh-kekeh. Gremio menguap lebar-lebar, kemudian meninggalkan kamar.
Nanami menggeleng-gelenkan kepalanya karena perbuatan konyol para lelaki. ”Dasar seperti anak kecil!.... Huuh??...!!! Jowy!!! Ini yang kedua kalinya aku membangunkanmu!! Ayo, pergi mandi!!” Nanami mendorong Jowy, hingga Jowy terjatuh dari tempat tidur. ”Ok, ok, ok! Dasar nenek cerewet!” Cepat-cepat Jowy keluar dari kamar. ”Apa??!!” Seru Nanami.
Akhirnya mereka meninggalkan Brass Castle, perjalanan menuju Karaya Village dilanjutkan kembali. Dari Brass Castle mereka melewati Plain of Armur. Plain of Armur adalah hamparan padang rumput yang luas, di sana terdapat tumpukan-tumpukan batu yang menandakan sebagai makam para pejuang Fire Bringers di masa Fire Bringers First Wars. Tidak lama kemudian sebuah titik dari jauh yang didekati menjadi sebuah perkampungan kecil, ya.. itu adalah Karaya Village.
Dua orang pria sedang berdiri di depan gerbang pintu masuk desa. Jowy menghampiri mereka. ”Kami adalah para peneliti daerah Grassland, kami ingin bertemu dengan kepala desa ini. Bila tidak keberatan, dapatkah kalian menunjukan kami rumah kepala desanya?” Pinta Jowy. Seorang penjaga mengantarkan mereka sampai ke depan pintu rumah kepala desa.
Mereka masuk ke rumah itu. ”Permisi!” Sahut Tir. Seorang wanita berkulit cokelat dan berambut pirang keluar dari bilik pemisah ruangan. ”Oh, tamu kepala desa.. silakan duduk!”
Riou memperhatikan wajah wanita itu, sepertiya ia pernah bertemu dengannya. Ia mencoba untuk mengingat sesuatu. ”Apakah anda Lucia?” Tanya Riou. Wanita itu sejenak memperhatikan Riou. ”Ya benar aku Lucia. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Rasanya kita memang pernah bertemu.” ”Apa kau ingat 17 tahun yang lalu kau berusaha untuk membunuhku di kamarku, Dunan Castle?” Riou mencoba untuk mengingatkan Lucia.
”Ya, aku ingat! Kau Riou, benar? Dan.. dan.. ya Tuhan! Kau Raja Highland, Raja Jowy!” Lucia sangat terkejut. ”Jangan panggil aku seperti itu. Aku bukan seorang Raja lagi,” Jowy tersenyum kecil. Lucia juga terkejut melihat Tir, mantan pemimpin Liberation Army. Tir menjelaskan bahwa sekarang mereka bukan lagi pemimpin yang melegenda, tetapi mereka sekarang adalah para petualang. Lucia melihat mereka belum duduk, akhirnya Lucia mempersilakan mereka duduk.
Lucia memulai pembicaraan, ”lama kita tidak berjumpa, bagaimana kabar kalian?” Riou yang menjawab, ”kami semua baik-baik saja, terima kasih! Kau sendiri, bagaimana kabarmu?” ”Kabarku baik.” Saat mereka datang, kebetulan Hugo, kepala desa Karaya Village sekaligus Flame Champion yang baru, sedang tidak ada di tempat. Dia adalah anak semata wayang Lucia., Saat ini Hugo bersama istrinya, Chris, sedang pergi ke Vinay del Zexay dan akan segera kembali lagi.
Lucia mengusulkan mereka untuk melihat-lihat desanya. Dan jika mereka memerlukan sesuatu, rumah Lucia selalu terbuka untuk mereka.
Mereka berpencar untuk jalan-jalan. Karaya Village memang sangat indah dengan paduan warna coklat, putih, hitam, dan kuning gading. Keasliannya memang terlihat menyegarkan. Grassland terkenal dengan tujuh klan yaitu: Karaya, Lizard, Duck, Chisa, Safir, Alma Kinan, dan Kaana yang dari dulu hingga sekarang bersatu di bawah pimpinan Flame Champion. Sebelumnya, klan Kaan sempat memisahkan diri, tetapi mereka bergabung kembali.
Padang rumput yang terhampar luas, sungai yang mengalir jernih, binatang ternak yang sedang memamah biak. Para wanita yang sedang bekerja sambil berbicara, anak-anak yang sedang berlari-lari atau bermain lompat tali. Para pria yang sedang berlatih pedang di lapangan menunjukan bahwa Karaya tidak pernah sepi dari kegiatan keseharian mereka. Awan-awan di langit begitu tipis sehingga warna biru langit terlihat jelas dan indah.
Gremio dan Cleo sedang berbincang-bincang dengan para penduduk. Gremio dotawari untuk belajar berlatih pedang. Sedangkan Cleo diajari cara menenun kain khas Karaya Village.
Riou dan Tir sedang duduk-duduk di atas batu yang besar. Riou menghirup udara yang segar, ia begitu senang. ”Tir berapa lama kau meninggalkan Gregminster?” ”Entahlah. Mungkin sudah sepuluh tahun dan...” tiba-tiba Tir terdiam. ”Ada apa Tir? Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Riou. ”Oh Riou, tiba-tiba saja aku merindukan Kasumi! Dia selalu mengunjungiku setiap akhir pekan, dan sekarang... aku meninggalkannya,” keluh Tir. ”Apa kau jatuh cinta terhadap Kasumi?” Riou sudah yakin jawaban Tir adalah ’ya’. ”Mungkin ya.. oh Riou! Aku tidak dapat mengutarakan perasaanku, aku ingin sekali mengatakan ’aku cinta padamu Kasumi’ tapi itu sulit sekali!” Curahan hati Tir terdengar cengeng. ”Ah, lupakan saja! Bagaimana denganmu Riou? Apa kau telah menemukan wanita yang tepat untukmu?” Tir penasaran. ”Belum, tapi suatu hari nanti pasti aku akan menemukannya,” Riou tersenyum.
Di tempat lain saat Jowy dan Nanami sedang berdua, seorang pesuruh Lucia mengatakan kepada mereka berdua bahwa makan siang telah siap. Jowy memanggil teman-temannya untuk segera ke rumah Lucia.
Di rumah Lucia, mereka dihidangkan makanan yang banyak, sebagai tradisi menyambut para tamu. Mereka juga disediakan air untuk mandi dengan cahaya matahari sore. Cleo dan Nanami tubuhnya diolesi semacam krim untuk perawatan kulit sebelum mereka mandi. Benar-benar perlakuan yang istimewa.
Selesai mandi, mereka berkumpul di ruang tengah sambil meminum teh hangat. Lucia menanyakan apa tujuan mereka ke Karaya Village. Jowy menjelaskan bahwa ia sedang meneliti daerah-daerah Grassland. ”Maaf kalau aku ikut campur, tetapi apakah kau meneliti tentang fenomena yang misterius seperti badai dan gempa yang tiba-tiba mucul, yang lima menit kemudian disusul hujang bintang itu Jowy? Peristiwa itu sekitar dua bulan yang lalu, apa kalian merasakannya?” Ungkap Cleo.
”Ya, kami merasakannya. Aku melihat hujan bintang jatuh tersebut jatuh melewati Karaya Village. Tapi sepertinya di daerah Plain of Armur tidak ada apa-apa, mungkin di bagian daerah Plain of Armur North jatuhnya,” Jowy menjelaskan. Lucia menceritakan bahwa dua bulan yang lalu setelah gempa berhenti berguncang, Hugo melihat hujan bintang itu jatuh ke arah sekitar utara dari Great Hollow, tapi itu baru pengamatan Hugo.
Selain fenomena yang misterius, keesokan harinya peramal desa Karaya mengatakan bahwa seluruh penduduk desa ini umurnya berkurang. ”Tapi, bagaimana si peramal itu bisa tahu kalau umur mereka semua berkurang?” Gremio setengah tidak percaya. ”Roh angin dan roh tanah yang memberitahu kepada peramal tersebut,” Lucia sangat yakin sekali.
Semua terdiam, yang terdengar hanya tiupan angin. Malam sudah larut, mereka semua permisi kepada Lucia, karena mereka akan tidur di penginapan yang bertepatan di sebelah rumah Lucia.
Di kamar para pria, Gremio bertanya kepada Tir. ”Apa yang ingin kau tanyakan, Gremio?” Tir melepaskan penutup kepalanya. ”Pembicaraan yang tadi, perasaanku mengatakan bahwa kita akan kembali lagi ke dunia perang,” ungkap Gremio. Mereka sejenak terdiam. ”Apa maksudmu, Gremio?” Jowy mengerutkan keningnya. ”Kalau yang tidak mungkin menjadi mungkin, misalkan seperti musuh-musuh kita yang dulu kita hadapi hidup kembali, besar kemungkinan kita mengulang sejarah kita kembali,” Gremio menutup tirai tipis yang berada di sebelah Riou.
Tir menambahi, ”aku berharap, kita tidak akan bergabung kembali ke dalam peperangan untuk yang kedua kalinya! Aku sudah menikmati kehidupan yang normal ini... walaupun Soul Eater Rune masih bersamaku,” Tir memperhatikan tangan kanannya yang dibaluti perban. ”Hey teman! Jika takdir menginginkan begitu, mau tidak mau kita harus menghadapinya!” Riou menyemangati. ”Riou benar! Sudahlah, sekarang kita tidur. Selamat malam semuanya!” Gremio menarik selimutnya. Tidak ada suara lagi. Kini mereka sudah pindah ke alam mimpi.
Gensou Suikoden: Heroes Come Back Again vol.1 prologue
Prologue
Dua tahun kemudian….
Suatu malam yang tenang, bahkan angin bertiup pelan namun sejuk. Bulan purnama bersinar terang. Di sebuah hutan, seorang gadis berjalan. Ia menggunakan jubah hingga ke ujung kakinya, ia tak merasa takut berjalan di dalam kegelapan. Burung hantu memperhatikan ia berjalan dari atas pohon. Ia tiba di ujung jalan, terdapat pohon yang lebih besar namun tertutup oleh ranting-ranting yang meliliti tubuh pohon.
Ia mengeluarkan sebuah pedang kecil dari ikat tali pinggangnya. Ia memotong ranting-ranting tersebut. Setelah ia selesai memotong ranting tersebut, terlihat jelas sebuah lambang pada batang pohon.
“Hmm…hmm..hmm.. akhirnya kutemukan juga gambar True Rune yang kuciptakan dulu. Semua orang yang telah berbuat jahat kepadaku akan menyesal!” Ia mulai membuka sarung tangan kanannya. Tiba-tiba tangan kanannya bersinar.
Tidak lama kemudian, angin-angin mulai bergemuruh, kilat-kilat menyambar bagaikan membelah bumi, awan malam terlihat seperti spiral dan bumi pun berguncang. Saat itu malam yang tenang berubah menjadi malam yang meyeramkan.
Ia mengangkat tangan kanannya. “Menyesal kalian semua! Malam ini dendamku akan terbalaskan! Semua orang yang mati akan hidup kembali! Semua usia di muka bumi ini akan berkurang! Kekutan jahat akan datang kembali!”
Sinar dari tangan kanannya bersinar makin terang, hingga sinar itu menyebar ke seluruh isi hutan. Kejadiannya berlangsung selama lima menit. Akhirnya angin yang begemuruh mulai berhenti dan kembali menjadi normal. Kilat-kilat menghilang, awan-awan malam kembali normal dan bumi berhenti berguncang.
Sinar itu semakin meredup. “Akhirnya…” Ia terjatuh pingsan. Tiga menit setelah ia pingsan, di langit malam yang jernih terlihat seperti hujan bintang jatuh.
Di lain tempat, di sebuah bangunan yang megah dan isi ruangan itu hanya cawan-cawan yang berisi api berwarna biru, tempat yang dinamakan Magician Island. Berdirilah seorang wanita, rambutnya terjulur hingga ke lantai dan juga kerudungnya. Ia buta, namun mata hatinya tidak buta. Ia adalah seorang pemegang salah satu dari 27 True Runes, yaitu Back Gate Rune. Ia adalah Lady Leknaat. Ia merasakan kejadian yang baru terjadi. ”Inikah True rune yang sudah lama kucari? Inikah True Rune yang lepas dari pengawasanku?”
Bola kristal yang berada di tangannya menyala. Ia mencoba melihat. ”Apa?! Ini tidak mungkin.... inikah takdir yang aneh tersebut?” Seketika Lady Leknaat. ”Tidak, aku tidak boleh gemetar. 108 Stars of Destiny harus terbentuk kembali.”
Tiga hari kemudian, di sebuah tempat seperti kuil untuk melakukan ritual penghancuran True Runes yang dinamakan Ceremonial Site. Langit mendung, suara angin terdengar sedih, kemudian disusul dengan satu kilatan yang bunyinya seperti membelah tanah.
Di tengah tempat seperti lapangan luas, terlihat banyak tumpukan batu. Tumpukan tersebut bergerak perlahan-lahan. Mucul sebuah tangan, kemudian seorang lelaki muncul dari tumpukan tersebut. Mukanya kotor tidak keruan, rambut coklat kepirangannya sepanjang leher. Bajunya lusuh dan banyak yang berlubang. Tatapan mata hijaunya kosong.
Kemudian ia melihat sekelilingnya. ”Aku berada dimana?” Ia melihat telapak tangannya yang masih menggunakan sarung tangan tetapi berlubang. Kemudian ia meraba wajahnya. ”Siapa aku? ....Aku tak mengenal diriku.... Aku harus meninggalkan tempat yang menyeramkan ini... Aku ingin mengetahui siapa diriku ...”
Dua tahun kemudian….
Suatu malam yang tenang, bahkan angin bertiup pelan namun sejuk. Bulan purnama bersinar terang. Di sebuah hutan, seorang gadis berjalan. Ia menggunakan jubah hingga ke ujung kakinya, ia tak merasa takut berjalan di dalam kegelapan. Burung hantu memperhatikan ia berjalan dari atas pohon. Ia tiba di ujung jalan, terdapat pohon yang lebih besar namun tertutup oleh ranting-ranting yang meliliti tubuh pohon.
Ia mengeluarkan sebuah pedang kecil dari ikat tali pinggangnya. Ia memotong ranting-ranting tersebut. Setelah ia selesai memotong ranting tersebut, terlihat jelas sebuah lambang pada batang pohon.
“Hmm…hmm..hmm.. akhirnya kutemukan juga gambar True Rune yang kuciptakan dulu. Semua orang yang telah berbuat jahat kepadaku akan menyesal!” Ia mulai membuka sarung tangan kanannya. Tiba-tiba tangan kanannya bersinar.
Tidak lama kemudian, angin-angin mulai bergemuruh, kilat-kilat menyambar bagaikan membelah bumi, awan malam terlihat seperti spiral dan bumi pun berguncang. Saat itu malam yang tenang berubah menjadi malam yang meyeramkan.
Ia mengangkat tangan kanannya. “Menyesal kalian semua! Malam ini dendamku akan terbalaskan! Semua orang yang mati akan hidup kembali! Semua usia di muka bumi ini akan berkurang! Kekutan jahat akan datang kembali!”
Sinar dari tangan kanannya bersinar makin terang, hingga sinar itu menyebar ke seluruh isi hutan. Kejadiannya berlangsung selama lima menit. Akhirnya angin yang begemuruh mulai berhenti dan kembali menjadi normal. Kilat-kilat menghilang, awan-awan malam kembali normal dan bumi berhenti berguncang.
Sinar itu semakin meredup. “Akhirnya…” Ia terjatuh pingsan. Tiga menit setelah ia pingsan, di langit malam yang jernih terlihat seperti hujan bintang jatuh.
Di lain tempat, di sebuah bangunan yang megah dan isi ruangan itu hanya cawan-cawan yang berisi api berwarna biru, tempat yang dinamakan Magician Island. Berdirilah seorang wanita, rambutnya terjulur hingga ke lantai dan juga kerudungnya. Ia buta, namun mata hatinya tidak buta. Ia adalah seorang pemegang salah satu dari 27 True Runes, yaitu Back Gate Rune. Ia adalah Lady Leknaat. Ia merasakan kejadian yang baru terjadi. ”Inikah True rune yang sudah lama kucari? Inikah True Rune yang lepas dari pengawasanku?”
Bola kristal yang berada di tangannya menyala. Ia mencoba melihat. ”Apa?! Ini tidak mungkin.... inikah takdir yang aneh tersebut?” Seketika Lady Leknaat. ”Tidak, aku tidak boleh gemetar. 108 Stars of Destiny harus terbentuk kembali.”
Tiga hari kemudian, di sebuah tempat seperti kuil untuk melakukan ritual penghancuran True Runes yang dinamakan Ceremonial Site. Langit mendung, suara angin terdengar sedih, kemudian disusul dengan satu kilatan yang bunyinya seperti membelah tanah.
Di tengah tempat seperti lapangan luas, terlihat banyak tumpukan batu. Tumpukan tersebut bergerak perlahan-lahan. Mucul sebuah tangan, kemudian seorang lelaki muncul dari tumpukan tersebut. Mukanya kotor tidak keruan, rambut coklat kepirangannya sepanjang leher. Bajunya lusuh dan banyak yang berlubang. Tatapan mata hijaunya kosong.
Kemudian ia melihat sekelilingnya. ”Aku berada dimana?” Ia melihat telapak tangannya yang masih menggunakan sarung tangan tetapi berlubang. Kemudian ia meraba wajahnya. ”Siapa aku? ....Aku tak mengenal diriku.... Aku harus meninggalkan tempat yang menyeramkan ini... Aku ingin mengetahui siapa diriku ...”
Gensou Suikoden: Heroes Come Back Again the story...
Dua tahun yang lalu setelah pertempuran Fire Bringers War yang kedua, dan pengambilan empat elemen True Runes secara paksa. Keempatnya adalah True Fire Rune, True Water Rune, True Lightning Rune dan True Earth Rune. Flame Champion yang baru dan Fire Bringers bertarung melawan pemegang True Wind Rune, Luc. Luc memanggil Wind Rincar untuk menghabisi mereka dan termasuk menghancurkan dunia ini. Flame Champion dan Fire Bringers dapat bertarung melawan Wind Rincar, akhirnya Luc kalah.
Setelah Luc kalah, sebuah gempa bumi datang, Hugo dan kawan-kawannya lari untuk menghindari reruntuhan yang diakibatkan gempa tersebut. Tetapi Luc tidak beranjak dari tempat itu. Tiba-tiba sesuatu terjadi
Dapatkah Luc menyelamatkan dirinya? Apakah Luc tewas atau hidup? Siapa yang mengetahuinya?
Setelah Luc kalah, sebuah gempa bumi datang, Hugo dan kawan-kawannya lari untuk menghindari reruntuhan yang diakibatkan gempa tersebut. Tetapi Luc tidak beranjak dari tempat itu. Tiba-tiba sesuatu terjadi
Dapatkah Luc menyelamatkan dirinya? Apakah Luc tewas atau hidup? Siapa yang mengetahuinya?
Langganan:
Postingan (Atom)
