Chapter 1
Sebuah jalan yang disetiap sisi jalannya berdiri pohon-pohon sehingga jalan tersebut teduh tertutupi daun yang lebat. Sepanjang jalan, terdapat sungai yang airnya berkilauan karena cahaya matahari, matahari bersinar terik. Burung-burung berkicau di dahan pohon.
Seorang pria sedang memancing, ia duduk di tempat yang teduh. Ia menggunakan penutup kepala hijau, di sampingnya sebuah ember berisi delapan ekor ikan siap untuk dijadikan makanan siang. ”Tuan muda Tir, apakah kau mendapat tangkapan yang banyak?” seorang pria berambut pirang menghampirinya.
”Tidak Gremio, aku hanya mendapatkan delapan ekor ikan,” mata Tir mengarahkan ke ember di sampingnya. Gremio tertawa kecil, ”untuk apa ikan sebanyak itu? Kita hanya bertiga.” Pancingan Tir bergerak, ia mengangkat pancingannya. Tangkapan terkhirnya cukup besar, ia masukan ke dalam ember. Tir berdiri, ia merenggangkan tangannya. ”Kau benar Gremio. Tapi aku merasakan kita akan kedatangan tamu.”
Tidak jauh dari tempat itu, terlihat dua orang pria dan seorang wanita sedang berjalan. Wanita itu berkata, ”Oh please, kakiku sangat lelah! Mengapa kita tidak beristirahat sejenak?” Lelaki berambut pendek pirang menjawabnya, ”Nanami, kita dapat beristirahat setelah terlihat sungai.” ”Jowy bodoh! Itu sungai! Apa kau tidak bisa melihat, huh?! Riou! Kau tidak berpikir kalau perjalanan kita sangat jauh??!!” Nanami sangat kesal.
Riou tidak mendengar ocehan Nanami. ”Hey, disana ada orang, kita dapat menanyakan Karaya Village kepada mereka!” Seru Riou. Jowy menyipitkan mata, ”ah ya! Mari kita tanyakan kepada mereka!” Mereka berdua lari, Nanami yang sedang mengoceh ditinggalkan begitu saja. Ketika Nanami sadar, ia segera menyusul mereka.
”Permisi, kami ingin menanyakan jalan menuju Karaya Village...” Sebelum Riou menyelesaikan kalimatnya, Tir membalikan badan. Mereka bertatapan, lalu mereka terkejut. ”Riou?!” ”Tir?? Hei apa kabar?” Mereka berpelukan. ”Lama kita tidak berjumpa, ini Jowy,” Riou memperkenalkan Jowy. Mereka berjabat tangan.
Terdengar teriakan Nanami. Setelah berhasil mengejar Riou dan Jowy, Nanami memperhatikan sejenak, kemudian terkejut. ”Apa kabar Nanami? Kau semakin bersemangat saja,” Tir tersenyum. ”Oh McDohl, aku baik-baik saja, terima kasih.”
Seorang wanita berambut coklat menghampiri mereka. ”Tuan Tir, Gremio sudah selesai membuat barbecue.” Dia adalah Cleo, pengikut setia Tir. Mereka makan siang di bawah pepohonan yang rindang, angin siang berhembus sejuk. Mereka bercakap-cakap. Riou menceritakan bahwa mereka baru ke Grassland kurang lebih lima bulan yang lalu. Mereka berencana akan menuju Karaya Village.
Sebenarnya tujuan ke Karaya Village adalah kepentingan Jowy. Ia kini mencoba mengikuti jejak ayah kandungnya sebagai arkeolog. Tetapi Jowy belum memutuskan untuk meneliti seperti halnya puing-puing. Ia tertarik dengan daerah Seven Clan of Grassland. Yang pertama dipilih adalah desa yang melahirkan seorang Flame Champion baru, Karaya Village.
”Tir, kemana tujuanmu setelah ini?” Riou melap mulutnya dengan sapu tangan putih. ”Kami belum memutuskan. Tapi kami ingin pergi ke Harmonia,” Tir membetulkan ikat kepalanya. Jowy kemudian memberikan usul, ”bagaimana kalau kalian bergabung dengan kami? Sangat menyenangkan bila kalian ikut bersama kami. Dan lagipula, itu sangat menguntungkan bagi Nanami karena ada Cleo. Aku pusing sekali kalau Nanami mulai cerewet!” Pendengaran Nanami tajam, ia mencengkram pundak Jowy. Jowy tertawa ketakutan melihat mata Nanami mulai berkilat-kilat.
Cleo menanggapi dengan senang, ”ide yang bagus! Kita dapat mengetahui seperti apa Karaya Village itu. Bila kita pergi sekarang, kita akan sampai di sana besok pagi.” Semua sepakat dengan usul Cleo. Selesai makan, mereka mulai mengemasi barang-barang kemudian pergi
Matahari terbenam, langit-langit senja perlahan memudar. Suara burung gagak meramaikan suasan sore. Udara perlahan-lahan berubah menjadi dingin. Setelah langit menjadi gelap, Riou dan teman-teman tiba di Brass Castle. Benteng kastil yang merupakan tempat perbatasan Grassland – Zexen. Terlihat beberapa ksatria Zexen sedang berpatroli. Riou dan teman-teman memutuskan untuk bermalam di penginapan Zexen. Setelah memesan kamar, mereka beranjak tidur.
Pagi telah tiba, matahari bersinar terang dan cerah disusul dengan kicauan-kicauan burung. Jendela-jendela penginapan mengembun. Nanami telah selesai mandi di bak mandi penginapan, wajahnya memerah karena kedinginan. Ia melihat Cleo turun dari tangga, Cleo menyapa Nanami. ”Selamat pagi, Cleo! Kau akan pergi mandi, bukan? Airnya sangat dingin dan menyegarkan... um... dimana para lelaki?” Nanami masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. ”Oh, mereka masih tidur.. seperti putri tidur.” Mendengar perkataan Cleo, Nanami beranjak ke atas untuk membangunkan para pria.
Saat Nanami membuka pintu kamar, dia melihat gaya tidur yang berantakan disertai dengkuran yang keras. ”Aku tidak bisa berpikir, mengapa semua pria tidur seharian penuh, bahkan sampai tidak bangun!” Nanami menggeram. Satu per satu Nanami memukul para pria sambil berteriak. ”HEY!! Bangun kalian para pemalas!” Pukulan terakhir ditunjukan kepada Jowy. ”Ouch! Lima menit lagi! Oh... aku benci pagi hari, Nanami...” Jowy menarik kembali selimutnya. ”Jangan berkata seperti itu, Jowy! Riou! Riou! Bangun!” Nanami menguncang-guncangkan tubuh Riou.
Riou langsung terbangun, jalannya terhuyung-huyung, kemudian menabrak dinding. Kepalanya pusing sekali, belum lagi ia terjatuh dari tangga. Terdengar pelayan penginapan bersuara khawatir serta menawarkan bantuan kepada Riou. Melihat itu, Tir tertawa terkekeh-kekeh. Gremio menguap lebar-lebar, kemudian meninggalkan kamar.
Nanami menggeleng-gelenkan kepalanya karena perbuatan konyol para lelaki. ”Dasar seperti anak kecil!.... Huuh??...!!! Jowy!!! Ini yang kedua kalinya aku membangunkanmu!! Ayo, pergi mandi!!” Nanami mendorong Jowy, hingga Jowy terjatuh dari tempat tidur. ”Ok, ok, ok! Dasar nenek cerewet!” Cepat-cepat Jowy keluar dari kamar. ”Apa??!!” Seru Nanami.
Akhirnya mereka meninggalkan Brass Castle, perjalanan menuju Karaya Village dilanjutkan kembali. Dari Brass Castle mereka melewati Plain of Armur. Plain of Armur adalah hamparan padang rumput yang luas, di sana terdapat tumpukan-tumpukan batu yang menandakan sebagai makam para pejuang Fire Bringers di masa Fire Bringers First Wars. Tidak lama kemudian sebuah titik dari jauh yang didekati menjadi sebuah perkampungan kecil, ya.. itu adalah Karaya Village.
Dua orang pria sedang berdiri di depan gerbang pintu masuk desa. Jowy menghampiri mereka. ”Kami adalah para peneliti daerah Grassland, kami ingin bertemu dengan kepala desa ini. Bila tidak keberatan, dapatkah kalian menunjukan kami rumah kepala desanya?” Pinta Jowy. Seorang penjaga mengantarkan mereka sampai ke depan pintu rumah kepala desa.
Mereka masuk ke rumah itu. ”Permisi!” Sahut Tir. Seorang wanita berkulit cokelat dan berambut pirang keluar dari bilik pemisah ruangan. ”Oh, tamu kepala desa.. silakan duduk!”
Riou memperhatikan wajah wanita itu, sepertiya ia pernah bertemu dengannya. Ia mencoba untuk mengingat sesuatu. ”Apakah anda Lucia?” Tanya Riou. Wanita itu sejenak memperhatikan Riou. ”Ya benar aku Lucia. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Rasanya kita memang pernah bertemu.” ”Apa kau ingat 17 tahun yang lalu kau berusaha untuk membunuhku di kamarku, Dunan Castle?” Riou mencoba untuk mengingatkan Lucia.
”Ya, aku ingat! Kau Riou, benar? Dan.. dan.. ya Tuhan! Kau Raja Highland, Raja Jowy!” Lucia sangat terkejut. ”Jangan panggil aku seperti itu. Aku bukan seorang Raja lagi,” Jowy tersenyum kecil. Lucia juga terkejut melihat Tir, mantan pemimpin Liberation Army. Tir menjelaskan bahwa sekarang mereka bukan lagi pemimpin yang melegenda, tetapi mereka sekarang adalah para petualang. Lucia melihat mereka belum duduk, akhirnya Lucia mempersilakan mereka duduk.
Lucia memulai pembicaraan, ”lama kita tidak berjumpa, bagaimana kabar kalian?” Riou yang menjawab, ”kami semua baik-baik saja, terima kasih! Kau sendiri, bagaimana kabarmu?” ”Kabarku baik.” Saat mereka datang, kebetulan Hugo, kepala desa Karaya Village sekaligus Flame Champion yang baru, sedang tidak ada di tempat. Dia adalah anak semata wayang Lucia., Saat ini Hugo bersama istrinya, Chris, sedang pergi ke Vinay del Zexay dan akan segera kembali lagi.
Lucia mengusulkan mereka untuk melihat-lihat desanya. Dan jika mereka memerlukan sesuatu, rumah Lucia selalu terbuka untuk mereka.
Mereka berpencar untuk jalan-jalan. Karaya Village memang sangat indah dengan paduan warna coklat, putih, hitam, dan kuning gading. Keasliannya memang terlihat menyegarkan. Grassland terkenal dengan tujuh klan yaitu: Karaya, Lizard, Duck, Chisa, Safir, Alma Kinan, dan Kaana yang dari dulu hingga sekarang bersatu di bawah pimpinan Flame Champion. Sebelumnya, klan Kaan sempat memisahkan diri, tetapi mereka bergabung kembali.
Padang rumput yang terhampar luas, sungai yang mengalir jernih, binatang ternak yang sedang memamah biak. Para wanita yang sedang bekerja sambil berbicara, anak-anak yang sedang berlari-lari atau bermain lompat tali. Para pria yang sedang berlatih pedang di lapangan menunjukan bahwa Karaya tidak pernah sepi dari kegiatan keseharian mereka. Awan-awan di langit begitu tipis sehingga warna biru langit terlihat jelas dan indah.
Gremio dan Cleo sedang berbincang-bincang dengan para penduduk. Gremio dotawari untuk belajar berlatih pedang. Sedangkan Cleo diajari cara menenun kain khas Karaya Village.
Riou dan Tir sedang duduk-duduk di atas batu yang besar. Riou menghirup udara yang segar, ia begitu senang. ”Tir berapa lama kau meninggalkan Gregminster?” ”Entahlah. Mungkin sudah sepuluh tahun dan...” tiba-tiba Tir terdiam. ”Ada apa Tir? Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Riou. ”Oh Riou, tiba-tiba saja aku merindukan Kasumi! Dia selalu mengunjungiku setiap akhir pekan, dan sekarang... aku meninggalkannya,” keluh Tir. ”Apa kau jatuh cinta terhadap Kasumi?” Riou sudah yakin jawaban Tir adalah ’ya’. ”Mungkin ya.. oh Riou! Aku tidak dapat mengutarakan perasaanku, aku ingin sekali mengatakan ’aku cinta padamu Kasumi’ tapi itu sulit sekali!” Curahan hati Tir terdengar cengeng. ”Ah, lupakan saja! Bagaimana denganmu Riou? Apa kau telah menemukan wanita yang tepat untukmu?” Tir penasaran. ”Belum, tapi suatu hari nanti pasti aku akan menemukannya,” Riou tersenyum.
Di tempat lain saat Jowy dan Nanami sedang berdua, seorang pesuruh Lucia mengatakan kepada mereka berdua bahwa makan siang telah siap. Jowy memanggil teman-temannya untuk segera ke rumah Lucia.
Di rumah Lucia, mereka dihidangkan makanan yang banyak, sebagai tradisi menyambut para tamu. Mereka juga disediakan air untuk mandi dengan cahaya matahari sore. Cleo dan Nanami tubuhnya diolesi semacam krim untuk perawatan kulit sebelum mereka mandi. Benar-benar perlakuan yang istimewa.
Selesai mandi, mereka berkumpul di ruang tengah sambil meminum teh hangat. Lucia menanyakan apa tujuan mereka ke Karaya Village. Jowy menjelaskan bahwa ia sedang meneliti daerah-daerah Grassland. ”Maaf kalau aku ikut campur, tetapi apakah kau meneliti tentang fenomena yang misterius seperti badai dan gempa yang tiba-tiba mucul, yang lima menit kemudian disusul hujang bintang itu Jowy? Peristiwa itu sekitar dua bulan yang lalu, apa kalian merasakannya?” Ungkap Cleo.
”Ya, kami merasakannya. Aku melihat hujan bintang jatuh tersebut jatuh melewati Karaya Village. Tapi sepertinya di daerah Plain of Armur tidak ada apa-apa, mungkin di bagian daerah Plain of Armur North jatuhnya,” Jowy menjelaskan. Lucia menceritakan bahwa dua bulan yang lalu setelah gempa berhenti berguncang, Hugo melihat hujan bintang itu jatuh ke arah sekitar utara dari Great Hollow, tapi itu baru pengamatan Hugo.
Selain fenomena yang misterius, keesokan harinya peramal desa Karaya mengatakan bahwa seluruh penduduk desa ini umurnya berkurang. ”Tapi, bagaimana si peramal itu bisa tahu kalau umur mereka semua berkurang?” Gremio setengah tidak percaya. ”Roh angin dan roh tanah yang memberitahu kepada peramal tersebut,” Lucia sangat yakin sekali.
Semua terdiam, yang terdengar hanya tiupan angin. Malam sudah larut, mereka semua permisi kepada Lucia, karena mereka akan tidur di penginapan yang bertepatan di sebelah rumah Lucia.
Di kamar para pria, Gremio bertanya kepada Tir. ”Apa yang ingin kau tanyakan, Gremio?” Tir melepaskan penutup kepalanya. ”Pembicaraan yang tadi, perasaanku mengatakan bahwa kita akan kembali lagi ke dunia perang,” ungkap Gremio. Mereka sejenak terdiam. ”Apa maksudmu, Gremio?” Jowy mengerutkan keningnya. ”Kalau yang tidak mungkin menjadi mungkin, misalkan seperti musuh-musuh kita yang dulu kita hadapi hidup kembali, besar kemungkinan kita mengulang sejarah kita kembali,” Gremio menutup tirai tipis yang berada di sebelah Riou.
Tir menambahi, ”aku berharap, kita tidak akan bergabung kembali ke dalam peperangan untuk yang kedua kalinya! Aku sudah menikmati kehidupan yang normal ini... walaupun Soul Eater Rune masih bersamaku,” Tir memperhatikan tangan kanannya yang dibaluti perban. ”Hey teman! Jika takdir menginginkan begitu, mau tidak mau kita harus menghadapinya!” Riou menyemangati. ”Riou benar! Sudahlah, sekarang kita tidur. Selamat malam semuanya!” Gremio menarik selimutnya. Tidak ada suara lagi. Kini mereka sudah pindah ke alam mimpi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar