Chapter 2
Malam di Karaya Village sangat tenang, bulan bersinar terang dengan tiupan angin. Lolongan para serigala di Plain of Armur terdengar sayup-sayup, terkadang terdengar jelas. Orang-orang Karaya dan para tamu mereka tertidur pulas, kecuali para penjaga. Para penjaga sedang berpatroli untuk ketenangan malam di desa itu.
Di kamar wanita, Cleo dan Nanami tidurnya tenang hingga Nanami mendengar sesuatu. ”Tolong! Siapa pun tolong aku!” Nanami tersentak dari tidurnya, ia mencoba untuk mendengar kembali siapa tahu suara tadi hanya berasal dari mimpinya, suara tadi terdengar kembali. Nanami membangunkan Cleo. ”Cleo.. Cleo.. bangunlah!” Bisik Nanami. ”Erh.. mh.. ada apa Nanami?” Jawabnya berbisik juga. ”Tidakkah kau menengar seseorang meminta tolong?” Bisik Nanami. Mereka berdua mencoba mendengarkan lebih teliti. ”TOLOOONNNGG!!!!” Teriak seseorang. ”Ayo kita bangunkan para pria dan kita lihat apa yang terjadi!” Cleo segera menarik Nanami.
Di depan pintu kamar... ”Cleo? Nanami?” Gremio agak terkejut. ”Kami mendengarkan seseorang meminta tolong,” Cleo langsung menjelaskan. ”Kami juga mendengarnya. Orang itu berlari ke arah rumah Lucia, ayo!” Riou bergegas lebih dulu.
Setelah agak dekat rumah Lucia, terjadilah ribut-ribut... ”Katakan padaku, apa yang terjadi?!” Suara Lucia agak meninggi. Belum sempat menjawab, penjaga itu pingsan. ”Ada apa Lucia?” Jowy heran melihat penjaga itu pingsan. ”Entahlah, dia belum mengatakan apapun,” Lucia agak kesal. Datanglah seorang penjaga lagi dengan lari terbirit-birit. ”Nyonya Lucia! Nyonya Lucia! TOLONG!!”
”Ada apa ini?! Kau meminta tolong, dan temanmu juga sampai-sampai ia pingsan! Apa yang terjadi?! Aku tidak mengerti!!” Lucia MULAI KESAL. Penjaga tersebut menjelaskan bahwa ia melihat hantu. Lucia tidak percaya, baginya itu hanya omong kosong dan jelas-jelas mereka telah mengganggu ketenangan para penduduk. Penjaga itu bersikeras, ia menjelaskan sekali lagi bahwa hantu yang ia lihat adalah Jimba. ”J..Jimba.. hidup.. kembali!!” Penjaga itu menegaskan. ”Tidak mungkin! Dia telah tewas.. dan.. dan..” Lucia sesaat terdiam, ia melihat sesuatu hal yang tidak mungkin baginya dan langsung berteriak. ”AAAAARRRRGGGGHHH!!!! TIDAK MUNGKIN!!!” Lucia pun pingsan. ”Lucia?!” Mereka terkejut. ”Riou! Tir! Bawa Lucia ke dalam rumah! Dan kau, bawa temanmu kembali ke rumahnya!” Perintah Cleo.
Gremio menghampiri orang yang ditakuti oleh kedua penjaga dan Lucia. ”Apa kau yang dimaksud mereka? Maksudku, apa kau orang yang bernama Jimba?” Gremio agak setengah takut. ”Iya kau benar. Aku tidak ingin menakuti yang lainnya, mari kita selesaikan masalah ini di dalam saja,” ajak Jimba.
Sepuluh menit kemudian, Lucia telah sadar. ”Apa kau baik-baik saja Lucia?” Nanami membantu Lucia bangun. ’Hah! Nanami, katakan padaku kalau kejadian yang tadi itu tidak nyata. Aku melihat sahabatku, Jimba, hidup kembali dan..” Lucia begitu panik. ”Maafkan aku Lucia, tetapi kenyataannya aku hidup kembali,” suara Jimba membuat Lucia merinding.
”T..tapi bagaimana mungkin?! Kau tewas di Sindar Ruin!” Kepanikan Lucia semakin bertambah. ”Bisakah aku menjelaskan semuanya?” Pinta Jimba. ”Kau dapat menjelaskan semuanya agar masalah ini selesai,” jawab Riou. Semua terdiam selama beberapa menit dan mereka menginginkan Lucia tenang terlebih dahulu. Akhirnya Lucia siap untuk mendengarkan penjelasan Jimba.
Awalnya Jimba juga tidak mengerti mengapa ia hidup kembali sampai ada sesorang yang menceritakan bahwa belum lama ini keanehan di dunia terjadi seperti berkurangnya umur semua orang, beberapa yag mati hidup kembali seperti Jimba. Malapetaka akan kembali lagi. Gremio menanyakan mengapa Jimba tewas. Jimba tewas dikarenakan karena ia ingin menyelamatkan True Water Rune dari tangan Masked Bishop di Sindar Ruin. Jimba adalah pemegang True Water Rune 52 tahun yang lalu.
Maskud Masked Bishop ingin merebut True Water Rune dari Jimba adalah, ia ingin menghancurkan dunia dengan cara mengumpulkan lima elemen dari True Runes. Alasan mengapa Masked Bishop ingin menghancurkan True Runes dan dunia ini adalah ia terlalu benci dengan kehidupannya. Ia begitu menderita karena ia immortal. Setiap peperangan yang ia alami, selalu saja berhubungan dengan True Runes.
”Sebenarnya, siapa sebenarnya Masked Bishop ?” Cleo penasaran. ”Masked Bishop adalah Luc, pemegang True Wind Rune,” jawab Lucia. Semua terkejut, mereka tidak percaya apa yang dikatakan Lucia. ”Luc?! Luc yang pernah bergabung dengan kami saat di Allied Army itu? Aku tidak percaya! Bagaimana mungkin?” Nanami berharap mereka hanya membual, tapi tidak. ”Yang aku tahu hanya... Luc bekerja sama dengan Yuber, Albert Silverberg dan Sarah. Mereka telah melakukan coup d’etat terhadap Bishop Sasarai, ” kemudian Lucia meminum air yang tadi diberikan oleh Cleo.
”Yuber?!” Seru Jowy dan Tir bersamaan. Tir menggeram dan mukanya sangat marah, ”aku ingat saat Yuber, Windy dan Neclord membakar Village of The Hiden untuk mencuri Soul Eater Rune dari kakek Ted, dan berusaha untuk memburu Ted. Mereka akhirnya gagal, karena Ted telah memindahkan True Rune ini kepadaku... dan mereka membunuhnya!!” Tir hampir menggebrak meja, tapi ditahan oleh Gremio. ”Tuan Muda Tir, tolong.. jangan ingat kejadian itu lagi,” pinta Gremio.
”Lucia, apa kau ingat saat kita membayarnya utnuk merebut Greenhill City dan mengalahkan pasukan Allied Army?” Tanya Jowy. ”Ya, aku ingat. Tapi dia melarikan diri sebelum Highland kalah telak,” jawab Lucia.
Riou berpikir, bagaimana mungkin semua 27 True Runes dapat dihancurkan tanpa induk rune? Induk Rune dari semua 27 True Runes adalah Rune of Beginning yang terpisah menjadi Bright Shield Rune yang dipegang oleh Riou dan Black Sword Rune yang dipegang oleh Jowy. Bagaimana mungkin 27 True Runes hancur karena lima elemen True Runes yang bukan induk 27 True Runes, apa masih ada kaitannya? Kalau ia berkesempatan untuk bertemu dengan Lady Leknaat, akan ia tanyakan hal itu.
”Lalu, siapa pemegang True Water Rune yang sekarang?” Jowy sedikit penasaran. Jimba menjawab bahwa pemegang True Water Rune yang sekarang adalah anak perempuannya, Chris Lightfellow. Mereka berpikir kembali, kalaupun Jimba hidup kembali, apakah musuh-musuh yang dulu pernah mereka hadapi lalu yang telah mati... akan bangkit kembali? Mimpi yang buruk akan membawa mereka kembali. Masa-masa yang tenang, kini akan menjadi masa-masa yang kacau. Sepertinya waktu akan terulang kembali.
Nanami sudah tertidur dipundak Jowy. Mereka semua berpamitan untuk kembali ke penginapan. Malam sudah terlalu larut.. mungkin sebentar lagi pagi akan menjelang.
Pagi telah datang, burung-burung berkicauan. Udaranya menyegarkan, kabut malam telah menghilang dan berubah menjadi embun di daun-daun. Matahari bersinar terang, Nanami masih tidur hingga sinar matahari mengenai wajahnya, ia pun terbangun. Ia melihat Cleo sudah tidak berada di tempat tidur. Ia keluar dari kamar, penjaga penginapan bahwa mereka sedang sarapan bersama orang-orang.
Ketika Nanami keluar dari penginapan... ”Hei lihat, Nanami kesiangan!” Seru Jowy. ”Jowy jangan mulai, aku terlalu capek! Aku akan mencuci muka lalu bergabung dengan kalian . Lihat Jowy, kau makan sangat berantakan!” Nanami memberikan senyuman ejekan lalu pergi. ”Heh, sausnya ada di pipi kanan dan di dagu,” Riou menunjukan dengan tidak menyentuh pipi kanan dan dagu Jowy. ”Kau makan seperti bayi lima bulan!” Ejek Tir lalu tertawa hingga Tir tersedak. ”Oh sialan! Rasakan itu Tir!” Geram Jowy.
Selesai bersarapan... ”Yeah... sarapan yang menyenangkan walaupun aku tadi sedikit tersedak,” kata Tir yang kemudian meminum secangkir kopi. Nanami hendak berbicara sambil makan, tetapi Riou melarangnya. Riou menyuruh agar Nanami menelan makanan terlebih dahulu. Lalu Nanami menelan dagingnya.
”Riou... mengapa Luc bertindak seperti itu? Mengapa ia mempunyai niat untuk menghancurkan lima True Runes? Mengapa ia membenci kehidupan immortalnya? Kalian bertiga tidak terlihat seperti itu?” Nanami memndang Riou dalam-dalam. Sesaat Riou terdiam, kemudian ia menjawab, ”aku tidak tahu mengenai hal itu. Kejadian seperti 17 tahun yang lalu, saat Jowy yang bersahabat dengan kita tiba-tiba menjadi musuh kita.” ”Hei, aku yang seperti sekarang tidak seperti itu!” Jowy agak tersinggung. ”Aku hanya mengumpamakan Luc seperti kejadianmu, Jowy! Jangan diambil hati donk!” Riou memutar bola matanya.
Jowy menambahi penjelasan Riou. Ia sangat mengerti apa yang Luc rasakan, tetapi situasi dan kondisinya berbeda. Luc membenci kehidupan immortalnya, sehingga ia berambisi untuk menghancurkan True Runes serta kehidupan di dunia. Sedangkan Jowy mengagumi Luca Blight dan berambisi untuk mewujudkan impian Highland serta menjadi Raja walaupun bayarannya adalah ia harus meninggalkan sahabat-sahabatnya yang dari kecil. Persamaannya adalah dari kata ambisi, ya.. keduanya sama-sama berambisi untuk mencapai sesuatu walaupun harus kehilanhan nyawa, yang terpenting ambisi itu terlaksana dengan sempurna. Tapi seringkali ambisi yang berlebihan selalu berakhir dengan tragis, mereka dikalahkan oleh penetang ambisi mereka.
”Nanami, kau bilang kami tidak benci menjadi immortal, bukan? Kalau saja kau tahu.. kami juga sama dengan Luc.. sangat benci dan menderita. Kami hidup di bawah kutukan True Runes, tidak ada seorang pun yang menginginkan kehidupan ini. Kami ingin sekali hidup layaknya manusia normal, tidak dengan beban penderitaan yang diberikan True Runes kepada kami...” wajah Tir memelas. ”Kami berjuang menjalani takdir ini sebagai orang normal, walaupun kenyataannya tidak demikian. Suatu hari, jika kami sudah lelah dengan takdir ini dan umur kami sudah cukup untuk mati.. kami akan melepaskan True Rune ini... dan mati normal..” Riou menambahi dengan senyum yang kecut.
Nanami tercengang melihat Riou, Tir dan Jowy. Seberapa besar sebenarnya penderitaan mereka. Seberapa besar kemampuan mereka menutupi rasa penderitaan itu. Mereka terlalu hebat.. untuk menjalani takdir yang bisa dibilang kejam. Tiba-tiba mata Nanami berlinang, cepat-cepat Nanami menghapusnya agar yang lain tidak melihat, tetapi Gremio melihatnya, jadi ia pura-pura tidak melihat saja.
Di rumah Lucia, Jimba sedang minum secangkir kopi, ia melihat ke arah luar sambil tersenyum. ”Aku dapat merasakan Karaya baru setelah dibangun kembali karena dibakar dua tahun yang lalu,” mata Jimba belum beralih dari pandangan di luar sana. ”Kemudian putraku menjadi kepala desa ini,” Lucia mengaduk-aduk kopinya. ”Oh ya, aku tidak melihat Hugo. Dimana dia?” Jimba baru sadar kalu Hugo belum menampakkan batang hidungnya.
Tiba-tiba Lucia tertawa. Jimba memandang Lucia dengan pandangan yang baneh. Kemudian Jimba menanyakan ada apa, tetapi Lucia tetap tertawa. Akhirya Lucia menjelaskan semuanya.
Hugo dan Chris telah menikah setengah tahun yang lalu. Mereka berdua memutuskan utnuk tidak memiliki anak terlebih dahulu. Kini mereka sedang berada di Vinay del Zexay dan akan kembali secepatnya. Jimba sangat senang mendengarnya karena Chris mendapat suami yang baik. Jimba sangat mempercayai Hugo.
”Jika Chris melihat dirimu hidup kembali, dia pasti akan terkejut dan menangis. Kau tahu, saat ia berumur lima tahun, dia selalu mencari dan menunggumu untuk kembali pulang ke rumah. Setelah dia beranjak remaja, ia selalu mencarimu. Setelah dia menemukanmu, kau tewas... dan meniggalkannya lagi,” Lucia mengingatkan hal pahit yang dirasakan Chris kepada Jimba. Lucia menambahi, ”Jika ia tahu kau hidup kembali, pastinya ia akan menghabiskan waktunya hanya untuk bersamamu.”
”Ya, kau benar! Walaupun ia kuat dan tegar, ia selalu merindukan akan kasih sayang orang tua. Ini semua kesalahanku.. aku meninggalkannya tanpa mengucapkan selamat tinggal.. atau aku akan pulang. Kasihan Chris...” Jimba sangat menyesal. ”Ini akan baik-baik saja, hey temanku! Ini belum terlambat. Kau bisa bilang ’lihat, aku kembali! Datanglah kepada ayahmu ini’ benar? Dia tidak akan mungkin membencimu, Jimba,” hibur Lucia. ”Haha.. kau benar Lucia! Mengapa aku harus berpikiran yang bodoh? Terima kasih, Lucia!” Jimba merasa lega hatinya.
xxx
Setelah Tir, Riou, Jowy dan Gremio selesai mandi, Cleo mengajak mereka untuk jalan-jalan keluar dari Karaya, lebih tepatnya berbelanja ke Duck Village. ”Kalian tahu, kita tidak mempunyai uang cukup utnuk berbelanja!” Protes Tir. ”Oh, ayolah Tuan Muda Tir! Kami memiliki persedian uang untuk berbelanja. Ayolah!’ Ajak Cleo. ”Aku tidak mau, pria yang disana mengajak kami untuk balapan kuda bersama Riou, benar?” Tir memegang pundak Riou. Riou mengangguk setuju, ”itu benar. Maafkan kami teman!” Kemudian Riou dan Tir pergi sambil melambaikan tangan.
”Aku ikut berbelanja dengan kalian,” kata Jowy dari belakang. ”Oh Jowy, kau sangat baik! Aku cinta padamuuuu!!!” Nanami memeluk Jowy erat-erat. ”Kau ikut, Gremio?” Jowy menoleh ke arah Gremio. ”Tidak, aku ingin melihat balapan kuda. Kalian bersenang-senganglah! Kapan kalian akan pulang?” Tanya Gremio. ”Tepatnya sebelum makan malam tiba,” Cleo meyakinkan Gremio. ”Jangan terlambat! Kami akan menunggu kalian!” Sahut Riou dari jauh. ”Hey, bagaimana Riou bisa mendengar sejauh itu? Apa ia memiliki pendengaran yang super?” Nanami heran, ia mengerutkan dahinya. Kemudian mereka melambaikan tangan kepada Gremio.
Mereka berpamitan terlebih dahulu kepada para penjaga. ”Berhati-hatilah, di Plain of Armur North banyak monster-monster walaupun ukuran mereka kecil,” Penjaga yang di sebelah kiri mengingatkan mereka. ”Tapi, ada rumor mengatakan bahwa sewaktu-waktu para bandit akan datang. Mereka akan mengambil semua barang-barangmu dan menghajar kalian, hingga kalian tak berdaya lagi,” Penjaga yang di sebelah kanan menambahi. ”Itu rumor, benar? Tidak masalah, kami dapat mengatasinya. Jangan percaya omongan burung jika tidak ada buktinya,’ Jowy meyakinkan.
”Ya, tapi apapun yang terjadi kalian harus berwaspada!” Sekali lagi penjaga itu mengingatkan. ”Terima kasih telah memperingatkan kami sebelumnya,” Cleo tersenyum. Mereka pun pergi.
Sesampainya di Duck Village, mereka di sambut oleh para penjaga. Mereka pergi ke penginapan untuk makan siang. Setelah itu, mereka berbelanja. Mereka akan menyebar. Apabila salah satu diantara mereka telah selesai berbelanja, mereka harus menunggu yang lainnya di tempat tukang lottere.
Sore pun telah tiba. Yang selesai belanja pertama adalah Jowy. Jowy iseng-iseng ikut undian lottere. Keberentungan sedang berpihak padanya, ia menang. Jowy mendapatkan hadih ke dua. Cleo akhirnya datang, ”dimana Nanami?” Cleo melihat Nanami tidak sedang bersama Jowy. ”Aku di sini!!” Seru Nanami, ia berlari menghampiri mereka. ”Ingin pulang sekarang?” Jowy telah bersiap-siap. ”Ya, hari hampir petang. Aku tidak ingin membuat yang lainnya khawatir,” kata Cleo.
Rabu, 18 Februari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
