Sabtu, 14 Maret 2009

Gensou Suikoden: Heroes Come Back Again vol.1 chap.3

Chapter 3

”Apa yang kau beli Jowy?” Nanami kemudian melihat kantung isi belanjaan Jowy. ”Oh, aku membelikan barang-barang untuk Riou, Tir, Gremio dan untuk kita bertiga,” Jowy membetulkan kantung belanjaannya kembali. ”kau sangat baik sekali! Mereka tidak ikut belanja, tapi kau membelikannya untuk mereka,” Nanami sangat heran dengan Jowy. ”Hei, lihat itu!’ Tunjuk Cleo.

Sesuatu dari kejauhan, perlahan-lahan terdengar derapan kuda yang semakin jelas. Ringkikan kudan diiringi teriakan, seperti teriakan setan. Setelah terlihat agak dekat, mereka sejumlah kuda dengan penunggangnya datang berkelompok, mungkin jumlah mereka kurang lebih 50 orang. Mereka menghampiri ketiganya. Ketiganya menatap waspada. ”Viuu!! Hey lihat! Kita mendapatkan harta karun yang besar!” Pria berambut hitam setengah panjang menggunakan kaus putih tak berlengan menyeringai. ”Apa yang kalian maksud ’harta karun yang besar’?” Tanya Jowy dingin. ”Tolol! Jika kami berkata seperti itu, apa kalian tidak tahu kami adalah...” Seorang wanita berambut emas muncul dari belakang. Nanami terpekik, ”mereka adalah bandit..” bisiknya.

”Hey lihat! Ada wanita-wanita imut!” ”Hati-hati dengan tanganmu, hidung pesek!” Nanami mulai kesal. ”Hey gadis, jangan marah! Kami hanya ingin bersenang-senang denganmu!” Kemudia pria berambut hitam tertawa terbahak-bahak diikuti para bandit yang lain. Mata Jowy memberi isyarat untuk menyiapkan senjata mereka. Tetapi pria berambut hitam melihat gerakan isyarat mereka. ”Ho.. mereka berani sekali! Ressa apa kau siap?” Ia menoleh ke arah wanita berambut emas yang berekspresi ketus. ”Jangan tanyakan aku seperti itu, Tsuyoi! Karena aku selalu siap menghadapi para bayi seperti mereka,” Cara bicaranya begitu merendahkan.

”Terseraha kalian mau berkata apa... terima ini!!!!” Nanami menyerang Tsuyoi. Gerakan Tsuyoi sangat cekatan, ia melompat dari kudanya, tongkat yang ia pegang, ia patahkan menjadi dua sehingga menjadi dua tombak. Dia membalas menyerang Nanami, tetapi meleset. Nanami kembali memukulnya keras-keras. Jowy menyerang Ressa dan Cleo berusaha mengahabisi bandit-bandit yang lain. Sudah setengah jam, tetapi mereka masih bertarung dengan para bandit, anehnya.. jumlah mereka semakin membanyak.

”Hosh.. hosh.. hosh.. hosh.. ini.. tida..k.. baik... aku.. sangat lelah!!” Keringat Nanami bercucuran di wajahnya. ”Apa yang sedang kau pikirkan Jowy?” Cleo menggigit bibir bawahnya. Jowy memejamkan matanya sebentar. ”Aku akan menggunakan Black Sword Rune. Aku akan mencobanya. Masalahnya, aku tidak menggunakan Rune ini selama beberapa tahun,” Jowy melihat tangan kanannya yang ditutupi sarung tangan beludru kuning gading. ”Oh Jowy.. cobalah! Kau pasti bisa! Aku tidak ingin mati di sini hanya karena bandit-bandit brengsek!!’ Nanami mulai kesal.

Jowy berpikir, jika ia berhasil menggunakan Black Swor Rune tanpa hambatan, mereka akan berlari secepat mungkin untuk kembali ke Karaya Village dan meminta tolong. Situasi bertarung tidak memungkinkan, mereka hanya bertiga! Apa yang dapat dilakukuan tiga orang melawan 50 bandit kecuali kabur. Jowy meneguhkan hatinya, ia sangat berharap dengan Black Sword Rune. Perlahan-lahan sinar dari punggung tangan kanannya menyala, segera ia melepaskan sarung tangan kanannya. ”Black Sword Rune!!!!” Kemudian sinar yang besar terpencar menyilaukan, angin-angin berhembus kencang, daun-daun berterbangan. Para bandit menutup matanya karena silau.

”Sekarang... lari!!!!” Teriak Jowy. Mereka lari sangat kencang. Cleo tidak memperhatikan jalan di depannya, ia tersandung batu. Darah segar keluar dari lutut kanannya, ia merasa agak mati rasa. ”Oh sialan!” Cleo melanjutkan larinya, tak peduli darah di lututnya.

Sesampainya di Karaya Village, tiga orang penduduk melihat mereka tergeletak di tanah. Tiga penduduk itu memanggil penduduk yang lainnya, bahkan Riou, Tir, Gremio, Lucia dan Jimba. ”Apa yang terjadi pada kalian? Nafas kalian begitu cepat, tidak teratur!’ Tir keheranan melihat mereka bertiga. ”Hosh... hosh... hosh.. hosh.. hosh.. bi.. bia.. r.. kan.. aku.. ber.. istiraha..t .. di... sini,” muka Jowy tampak pucat. ”Tapi tidak di sini kalau kalian ingin beristirahat. Ayo kita bawa mereka ke rumah Lucia,” Gremio membantu memapah Jowy yang dibantu juga oleh Tir. Riou menggendong Nanami dan Lucia memapah Cleo.

Setelah keadaan mereka mulai tenang, Jowy menceritakan kejadian yang mereka bertiga alami di Plain of Armur North. Rumor mengenai para bandit memang benar-benar terjadi. Pemimpin bandit adalah Ressa, yang mendapat julukan ’Ratu dari segala bandit’. Satu tahun yang lalu, Ressa beserta kelompoknya berhasil mengambil seluruh kekayaan yang ada di pertambangan Tinto. Lima bulan yang lalu, Yaza Plain dijadikan sebagai tempat kekuasaannya, walaupun mereka tidak selalu berada di sana. Orang yang tidak beruntung pada saat pergi melewati Yaza Plain, tidak akan pernah selamat, entah kehilangan nyawa atau hanya dirampas barang-barangnya saja. Mereka sangat kuat dan kejam.

”Apa mereka akan datang ke sini dan akan menyerang Karaya?” Gremio tersentak. Cleo hanya menggelengkan kepala. Lucia beranjak dari tempat duduknya, ”kita harus bersiap-siap kapan pun mereka akan menyerang!” Kata Lucia mantap. ”Maafkan aku Lucia, ini semua kesalahan kami,” Jowy menundukan wajahnya. ”Ini bukan kesalahan kalian, memang seharusnya kita mulai waspada!” Kata Lucia.

xxx

Di Plain of Armur North, malam tiba, angin bertiup pelan, lolongan serigala mulai terdengar. Bulan bersembunyi di balik awan. Burung hantu menatap tajam sekumpulan bandit dari atas pohon. Para bandit sedang bersantap malam dan duduk-duduk di dekat api unggun. Ressa melap mulutnya yang basah, ia menanyakan apa mereka mengambil barng-barang dari Jowy, Nanami dan Cleo kepada bandit yang berada di sebelahnya. Si bandit menjawab tidak dan berkata bahwa mereka sepertinya bukan orang kaya, melainkan para petualang.

”Goblok! Kita sangat butuh banyak uang! Kalian semua idiot! Aku tidak peduli mereka kaya atau miskin! Yang aku perlukan hanya barang-barang mereka untuk kita jual, tolol!” Ressa melempar gelas peraknya ke dalam api unggun. ”Kau tahu Ressa, pria berambut pirang pendek tadi menggunakan salah satu pecahan dari 27 True Runes.. Kalau tidak salah.. dia mengeluarkan Black Sword Rune,” Tsuyoi mengajak Ressa berbicara tanpa peduli bahwa tadi Ressa murka.

”Black Sword Rune.. 17 tahun yang lalu pemiliknya adalah Raja Highland, Jowy Blight. Setelah Dunan Unification Wars berakhir, ia menghilang. Jangan-jangan... yang tadi kita serang adalah...” Ressa menggumam pada dirinya sendiri. Ia menanyakan kepada anak buahnya arah kemana Jowy dan teman-temannya kabur tadi. Salah satu anak buahnya sempat melihat bahwa mereka berlari ke arah Karaya Village. Senyum licik Ressa muncul, terbelesit di otaknya pikiran setan. Ia segera mengumumkan ide gila kepada anak-anak buahnya.

Ide gilanya adalah menyerang Karaya Village, membantai semuanya apabila ada yang menghalangi, kemudian mereka merampas seluruh kekayaan Karaya Village. Salah satu anak buahnya keberatan, ia mengatakan bahwa kepala desa Karaya Village adalah Flame Champion Hugo. ”Apa kau takut dengan Flame Champion, huh?! Jangan seperti bayi! Aku tidak pernah mengajari kalian untuk menjadi pengecut! Aku ingin komplotanku menjadi sangat kuat, mengerti?!” Ressa membentak semua anak buahnya.

”Ya Ratuku, kami sangat mengerti!” Seru para anak buahnya dengan gegap gempita. ””Bagus! Besok, kita akan menyerang Karaya Village! Aku tidak ingin mendengar salah satu dari kalian takut dengan Flame Champion Hugo! Ia hanya seorang bocah ingusan yang kebetulan saja menjadi pemilik True Fire Rune! Ayo berpesta!!! Ha.. ha.. ha.. ha.. ha... ha.. ha... ha.. ha..!!!” Gelak tawa Ressa seperti menggema ke seluruh dunia.

xxx

Riou menghampiri Nanami yang sedang duduk melamun. Nanami terlihat pucat dan ketakutan karena kejadian tadi sore di Plain of Armur North. Riou menanyakan ada apa, agar Nanami mengeluarkan uneg-uneg di hatinya. ”Aku sangat takut, Riou... Plain of Armur North dan Karaya Village begitu dekat.. aku mempunyai perasaan.. mereka akan menyerang desa ini.. walaupun aku tidak tahu kapan itu,” Nanami mendesah. ”Hello, dimana Nanami yang terlihat kuat dan pemberani itu?” Riou berusaha menenangkan Nanami.

Nanami menjawab, kadang kala manusia terlihat sangat kuat.. tetapi mereka bisa saja ketakutan sewaktu-waktu. Hanya saja, mereka dapat menyembunyikan rasa takut itu secara berbeda-beda. Kadang kala juga manusia dari luar terlihat kuat dari tampak depan, namun di dalam sana sebenarnya mereka lemah. Mereka mencari cara agar kelemahan itutidak tampak. Sebaliknya, orang yang terlihat lemah dari tampak depan, justru sangatlah kuat di dalamnya. Hanya saja kekuatan itu keluar kadang-kadang, mereka tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan keberanian mereka.

Riou berkata bahwa Nanami tidak sendirian di sini. Ia bersama dengan yang lainnya entah itu secara dekat maupun di luar sana. Sebagai adik Nanami, Riou akan melindungi Nanami dari apapun, ia tidak ingin kejadian Nanami yang tertembak panah 17 tahun yang lalu terulang kembali, hanya karena tidak ingin melihat Jowy dan Riou sebagai musuh. Ia tidak ingin Nanami mengorbankan apapun.

”Kau sangat baik sekali,Riou! Aku sangat berterima kasih karena memiliki saudara sepertimu dan kita adalah keluarga,” kemudian Nanami memeluk Riou. ”Lihat! Langitnya penuh dengan bintang!’ Riou menunjuk ke langit, Nanami melepas pelukannya. Mata Nanami berbinar. Nanami setuju bahwa langitnya indah karena penuh dengan bintang, begitu jernih. Tiba-tiba Nanami berkata bahwa ia merindukan Kakek Genkaku, dojo.. rumah mereka di Kyaro Town. Nanami berpendapat bahwa kakek mereka mungkin sedih karena kuburannya tidak ada yang merewat.

Riou sependapat dengan Nanami. Sudah 18 tahun Kakek Genkaku meninggal. Mungkin suatu hari nanti mereka bisa pulang ke Kyaro Town, Riou juga merindukan apa yang Nanami rindukan. Mereka berdoa kepada Genkaku, meminta perlindungan dan ketenangan bagi mereka, karena sebentar lagi kemungkinan mereka akan terjun ke dalam perang lagi. ”Waktunya tidur, hey kakak besarku! Aku tahu kau sangat lelah, ayolah pergi ke tempat tidurmu!” ”Okay, selamat malam.. Riou..” Nanami meninggalkan Riou yang masih duduk di rumput.

Pagi telah tiba, sesuatu terjadi di luar sana. Orang-orang sangat ribut, Jowy datang dan bertanya kepada Tir. ” Ada apa ini pagi-pagi? Mengapa semua orang berkumpul dan ribut-ribut?”. ” Oh, kau bangunnya telat. Kita diserang oleh para bandit itu dan Lucia akan datang.” . ” APA?!! Dimana mereka sekarang?!” ” Mereka di gerbang. Mereka membuat serangan mendadak, para penjaga membuat formasi agar mereka tidak bisa masuk. Kau seharusnya menyaipkan senjatamu karena kita akan berperang,” kata Tir.

Mereka tiba di gerbang bersama Lucia. ” Apa yang kalian inginkan?” Lucia melihat mereka dengan tatapan sinis. ” Jangan begitu marah! Kami hanya ingin mengambil seluruh kekayaan yang Karaya Village miliki,” jawab Ressa mencemooh. Jowy dan Tir muncul dari belakang Lucia, dan Ressa melihatnya. ” Oh, kita betemu kembali! Kau ingat aku, Jowy Blight?” kata Ressa, Jowy tercengang mendengarnya, mengapa ia bisa tahu namanya?

” Kapan kau berkenalan dengannya?” ejek Tir. ” Hey, aku tak punya waktu untuk memperkenalkan diriku dengan para bandit itu. Itu sama saja dengan bunuh diri!”. ” Jadi, kau tidak seperti Raja dari Highland, Jowy Blight!” ejek Ressa. ” Kalau saja kau tahu, kemarin dan sekarang berbeda. Kemarin, aku adalah seorang Raja yang bernama Jowy Blight. Sekarang aku adalah seorang pengembara yang bernama...”

” CUIH! Bsnyak omong!! Kami kesini hanya ingin merampok!!” potong Tsuyoi yang terlihat mulai kesal. ” Jika begitu, kau harus menghadapi kami pertama kali!” balas Lucia sengit. Mereka mulai berperang, orang-orang Karaya juga ikut bergabung dalam pertarungan untuk melindungi desa mereka. Hanya dalam waktu yang singkat, Riou berhasil melumpuhkan lima orang anak buah Ressa, disusul dengan Nanami yang ikut membantu adiknya.

Cleo menggunakan scroll magic dari kristal Wind Rune. Lucia menggunakan Fire Rune dan Jimba menggunakan Water Rune. Tir menggunakan Rune-nya yang sudah lama tidak ia gunakan yaitu Soul Eater Rune yang dapat menghilangkan segala jenis mahluk atau benda yang ada. Riou bertanya kepada Tir, ” Kira-kira mereka sampai kemana yah?” ” Entahlah, mungkin ke tempat yang sangat... sangat... sangaaaaat jauh. Aku berharap mengirim mereka ke 100 tahun yang lalu!” . Gremio berseru kepada Tir karena ia hendak diserang dari belakang tetapi Tir masih bisa menghindar.

” UPPS! Okay Riou, ini bukan waktunya membicarakan hal sepele seperti itu... ayo kita gabungkan serangan!!”. Nanami menyerang Tsuyoi, tapi dia terluka oleh serangan Tsuyoi. Jowy memberikan medicine dan menantang Tsuyoi sebagai pengganti kekasihnya itu.

Beberapa jam kemudian, pertarungan berakhir. Mereka menang, mereka dapat mengalahkan para bandit itu. ” Ingat!!! Aku akan kembali lagi untuk MEMBUNUH kalian semua dan menguasai desa ini!! Hari ini aku kalah tapi suatu hari nanti kemenangan berada di pihak kami, camkan hal itu baik-baik!!!” didengar dari nadanya pun Ressa terlihat sangat marah.

Para bandit telah pergi jauh dari Karaya Village. Segera Lucia berkata, ” Besok kita akan membuat rencana untuk perang melawan mereka. Sekarang kalian dapat beristirahat karena hari ini sangat melelahkan.”

Esok pagi mereka membuat rencana. Mereka berencana akan menjebak para bandit dari arah utara dan selatan dan kemungkinan rencana itu akan berhasil. Tetapi masalah dari rencana ini adalah bala tentara yang tidak cukup, sering kali para bandit bertambah banyak dan kemungkinan mereka bisa kalah.

Lucia berpikir apa yang semestinya ia lakukan? Jimba-lah yang memecahkan masalah itu. Ia memberikan gagasan bahwa mereka dapat mendapatkan bala bantuan dari Duck Village. Mereka bisa meminta Sgt. Joe dan tentaranya untuk membantu mereka dan saat itu mereka telah siap untuk berperang. Lucia teringat kalau Sgt. Joe tidak ikut bersama Hugo ke Vinay del Zexay. Bisa-bisanya Hugo tidak ada disini saat mereka mengahadapi masalah. Ia menyuruh seorang pelayang untuk menjemput Sgt. Joe dan tentaranya ke Duck Village.

Tiga jam kemudian...

” Maafkan aku, aku datang terlambat,” Sgt. Joe datang lalu berjabat tangan dengan yang lainnya. ”Terima kasih Sgt. Joe! Aku senang kau datang kemari, kau tau alasan aku menyuruh pelanyaku untuk menjemputmu?” kata Lucia dengan senang. ” Ya, aku tahu! Memang, para bandit itu adalah sumber masalah di Grassland, kita harus mengalahkannya dan jangan biarkan mereka membuat kerusuhan.” Jimba mengingatkan mereka untuk membuat rencana kembali karena mereka tidak punya banyak waktu.

Mereka sangat serius ketika sedang membuat rencana karena keinginan mereka utuk menang sangat besar. Disamping itu, mereka menginginkan Grassland damai dan tenang.

Beberapa jam kemudian...

” Oh! Jika kita mempunyai juru strategi, masalah kita dapat terpecahkan!” Tir memegang keningnya.

” Hugo dan Chris sedang berada di Harmonia dan akan kembali tiga hari kemudian,” tiba-tiba seorang pelayan muncul memberitahukan berita yang baru saja dia dengar dari salah satu tentara yang baru saja kembali dari Vinay del Zexay. ” APA??!!! Lalu berita apalagi yang kau dengar?” Lucia terkejut mendengar berita tersebut. Pelayan itu memberitahukan bahwa ia sudah menitipkan pesan untuk Hugo dan Chris agar mereka cepat kembali.

Setelah mendengar berita itu, Lucia menyuruh pelayannya untuk kembali bekerja. Ia menutup matanya karena ia sangat pusing dengan masalah yang runyam ini. Ia terduduk lemas, Cleo menyuruhnya untuk sedikit santai dan memberikannya minum.

Lucia menghabiskan minumannya, ia berkata ” Aku sekarang sangat membutuhkan bantuan dari putraku dan Chris. Tapi sekarang mereka sedang berada di Harmonia, apa yang mereka lakukan di sana?”. Gremio menepuk pundak Lucia untuk tidak menyerah. Yang dibalas dengan senyuman lemas oleh Lucia.

Sebelum matahari terbenam dan langit berubah menjadi gelap, seorang tentara memberitahukan bahwa posisi para bandit sedang berada di Plain of Armur. ” Bagus, saat yang tepat untuk kembali bertempur melawan mereka!” Jimba bangkit dari duduknya dan menghunuskan pedangnya dengan semangat ” Semua siap?!”. ” Kapan pun kami siap!!!!” jawab mereka penuh semangat. ” Ingat formasi yang tadi kita buat, jangan sampai kita gagal yang hasilnya akan berakibat fatal! Kita harus melindungi Karaya Villge!!!” ujar Gremio berapi-api. ” Ayolah, jangan membuang waktu lagi!” seru Riou yang tak kalah semangat.